Sequel Stranger! (Perfect)

380 64 22
                                        

​Mentari pagi di Roma seolah malas-malasan, cahayanya yang berwarna emas pucat baru menyelinap masuk melalui celah tipis di antara tirai beludru tebal di suite mewah mereka, menyentuh selimut sutra yang terlipat sedikit berantakan. Udara di dalam kamar terasa hangat, berbanding terbalik dengan sejuknya udara musim semi di luar. Soohyun terbangun perlahan, kelopak matanya mengerjap menyesuaikan diri dengan bias cahaya lembut.

​Hal pertama yang ia sadari adalah beban hangat yang nyaman di lengan kirinya. Ia tersenyum, matanya memfokuskan diri pada sosok yang tertidur pulas di sampingnya. Jiwon. Rambut hitam legam istrinya menyebar di atas bantal putih, wajahnya yang biasanya tegas kini terlihat begitu polos dan damai. Ia sedikit meringkuk, hidungnya tersembunyi di dada Soohyun, napasnya teratur dan tenang.

​Soohyun tidak bergerak. Ia menikmati momen langka ini. Selama enam bulan pernikahan mereka, momen setenang dan seintim ini seringkali diselingi oleh kekakuan Jiwon atau kecanggungan. Namun, sejak pengakuan jujur Jiwon di malam reuni—pengakuan cinta yang tulus dan jujur—dinding es di sekeliling Jiwon seolah runtuh, meninggalkan kehangatan yang tak terduga.

​Dengan sangat hati-hati, Soohyun mengangkat tangan kanannya dan membelai lembut garis rahang Jiwon, lalu menyentuh bibirnya yang sedikit terbuka. "Benar-benar takdir," bisiknya pelan, senyumnya semakin dalam.

​Jiwon menggeliat kecil, merasakan sentuhan itu. Ia mengerucutkan bibirnya sedikit, gerakan kecil yang sangat menggemaskan di mata Soohyun. Matanya masih tertutup rapat.

​"Jiwonie," bisik Soohyun lembut, suaranya sedikit serak khas bangun tidur. Ia menundukkan kepala dan mencium puncak kepala Jiwon yang beraroma sampo yang harum. "Ayo bangun, sayang."

​Jiwon hanya mendengus pelan. Ia justru semakin erat memeluk Soohyun, mencari kehangatan. "Lima menit lagi, Soohyun-ssi," gumamnya, suaranya serak dan teredam. Ia masih memanggil suaminya dengan panggilan formalitas '-ssi', sebuah kebiasaan yang melekat kuat, tetapi kini itu terasa lebih seperti godaan intim dan akrab daripada sebuah batas.

​Soohyun tertawa pelan, tawanya dalam dan renyah, bergetar di dada Jiwon. "Tidak ada lima menit, Nyonya Kim yang pemalas. Kau tahu ini Roma? Kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu berharga di sini hanya untuk bermalas-malasan di tempat tidur."

​Jiwon akhirnya menyerah, perlahan membuka matanya. Matanya yang indah menatap Soohyun dengan tatapan setengah mengantuk. Ia menarik kepalanya dari dada Soohyun, namun tangannya masih melingkari pinggang pria itu.

​"Apa kau tidak bisa diam sebentar saja? Kenapa kau harus seaktif ini di pagi hari?" gerutu Jiwon, tetapi tidak ada nada kejengkelan di suaranya, justru ada nada geli.

​"Aku aktif karena aku bahagia," jawab Soohyun, mencium bibir Jiwon sekilas. "Aku bangun di samping istriku yang cantik di salah satu kota terindah di dunia. Bagaimana bisa aku tidak bersemangat?"

​Jiwon tersenyum tipis, senyum yang tulus, dan itu adalah hadiah terbaik bagi Soohyun di pagi hari. "Dasar tidak sabar," balasnya. Ia memajukan wajahnya, mencium Soohyun, ciuman yang lebih dalam dan lebih lama.

​Setelah ciuman itu berakhir, Jiwon menyandarkan dahinya di dahi Soohyun, memejamkan mata sejenak, menikmati kedekatan mereka. "Jadi, apa rencana sang Tour Guide Kim hari ini?" tanyanya, suaranya kini terdengar lebih hidup.

​Soohyun tersenyum puas. Ia tahu ia telah berhasil menarik istrinya keluar dari mode tidur. "Hari ini kita akan melihat Koloseum di pagi hari, sebelum keramaian memuncak. Lalu kita akan pergi ke Piazza Navona untuk menikmati pemandangan dan gelato vanila yang sudah aku pesan khusus untukmu." Ia membelai pipi Jiwon dengan ibu jarinya. "Dan setelah itu, kita akan makan siang mewah di trattoria kecil di Trastevere yang direkomendasikan Hyung."

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang