Ignited Touch 33

416 75 10
                                        

Aroma teh herbal yang menenangkan memenuhi ruang tamu penthouse, namun Kim Jiwon, yang duduk di sofa, tak bisa merasakan ketenangannya. Cangkir keramik hangat di tangannya seolah tak mampu menghangatkan hatinya yang gelisah. Di sampingnya, Kim Dahyun masih asyik dengan ponselnya, sesekali melirik kakak iparnya, memastikan Jiwon baik-baik saja.

​Jiwon menghela napas panjang, merenungi semua yang telah terjadi. Perkataan Dahyun sedikit banyak memang sudah menenangkannya, namun pikiran tentang sang suami, Soohyun, tak bisa ia usir begitu saja. Ia tahu, ia harus kuat. Ia harus kuat demi Soohyun dan calon anak mereka. Ia tak boleh membiarkan komentar-komentar jahat dari internet memengaruhi dirinya.

​Tiba-tiba, getaran dari ponselnya membuat Jiwon terlonjak kecil. Sebuah notifikasi pesan masuk, menampilkan nama 'Kim Soohyun'. Hatinya berdebar. Senyum tipis mengembang di bibirnya saat ia membuka pesan itu. Namun, senyum itu langsung luntur, digantikan oleh kerutan di dahi.

​"Sayang, aku ada urusan mendadak. Mungkin aku akan pulang terlambat. Aku mencintaimu."

​Urusan mendadak? Jiwon mengerutkan keningnya. Mengapa tiba-tiba sekali? Dan nada pesannya terasa begitu serius, seolah ada sesuatu yang ia sembunyikan. Apakah ini ada hubungannya dengan rumor yang menyebar? Kekhawatiran yang tadi berhasil ia singkirkan kini kembali menyeruak, lebih kuat dari sebelumnya. Ia tahu Soohyun sangat peduli padanya dan tidak akan berbohong, tapi kalimat "urusan mendadak" itu terdengar sangat mencurigakan.

​Jari-jari Jiwon bergerak perlahan di atas layar, mencoba menyembunyikan rasa cemasnya. "Baik, Oppa. Hati-hati di jalan. Jangan terlalu lelah." Ia berhenti sejenak, menimbang-nimbang. Lalu, ia menambahkan, "Ada apa? Apakah ada masalah di kantor?"

​Soohyun tidak langsung membalas. Jiwon meletakkan ponselnya, namun matanya terus menatap layar yang gelap. Ia tidak bisa berkonsentrasi pada apa pun. Ia merasa tidak nyaman. Ada sesuatu yang tidak beres, ia bisa merasakannya. Ia merasa sedikit khawatir, dan terus bertanya-tanya tentang "urusan mendadak" itu.

​"Ada apa, Eonnie?" tanya Dahyun, menyadari raut wajah Jiwon yang berubah.

​"Oppa.. dia mengirimiku pesan. Dia bilang ada urusan mendadak. Dia mungkin pulang terlambat," jelas Jiwon, suaranya terdengar cemas.

​Dahyun mengangguk. "Ya, Sekretaris Choi juga bilang Oppa ada urusan di luar kantor. Jangan khawatir, Eonnie. Oppa pasti baik-baik saja," kata Dahyun, berusaha menenangkan.

​Meskipun Dahyun mencoba menenangkannya, Jiwon tidak bisa. Pikirannya terus melayang. Ia teringat tatapan Soohyun tadi pagi, tatapan yang begitu serius, penuh tekad. Ia tahu, Soohyun pasti akan melakukan sesuatu. Dan ia takut, Soohyun akan melakukan sesuatu yang berbahaya.

​"Aku akan menyiapkan makan malam untuknya," kata Jiwon, bangkit dari sofa. "Aku akan membuat sup hangat. Dia pasti butuh sesuatu yang hangat saat pulang nanti."

​"Itu ide yang bagus, Eonnie," balas Dahyun. "Ayo, aku akan membantumu."

​Mereka berdua berjalan ke dapur, namun pikiran Jiwon masih tertuju pada satu hal, urusan mendadak Soohyun. Ia tidak bisa melepaskannya. Ia hanya bisa berharap, Soohyun akan baik-baik saja.

###

​​Suasana di ruang interogasi terasa dingin dan tegang. Detektif Park menatap Kim Soohyun dan Tuan Hwang secara bergantian. Kehadiran Tuan Hwang, pengacara ternama dengan reputasi tak terkalahkan, membuat suasana yang tadinya tegang menjadi lebih terkendali. Tuan Hwang, dengan postur tegap dan wajah tanpa ekspresi, duduk di samping Soohyun, memancarkan aura profesionalisme yang kuat.

​"Baiklah, Tuan Kim," Detektif Park memulai, suaranya tenang dan tegas. "Mari kita mulai. Bisakah Anda jelaskan lagi apa yang terjadi di kantor Tuan Dohoon?"

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang