Jerat 16

378 68 9
                                        

Sore itu, Kim Soohyun pulang kerja dengan raut wajah sedikit cundung. Ia menemukan Kim Jiwon sedang bersantai di sofa.

"Ada apa, sayang?" Jiwon bertanya, menyadari perubahan ekspresi Soohyun.

Soohyun duduk di samping Jiwon, menghela napas. "Ada masalah di proyek kita di Dubai. Ada ketidaksesuaian besar dalam desain struktur bangunan yang bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani." Ia menatap Jiwon dengan cemas. "Aku harus pergi ke sana. Mungkin sekitar tiga atau empat hari."

Mendengar itu, Jiwon merasakan sedikit kecemasan merayap. Gagasan Soohyun pergi meninggalkannya, apalagi saat ia merasa kurang sehat beberapa hari terakhir ini, tetap menimbulkan kekhawatiran.

"Dubai? Secepat ini?" Jiwon bertanya, mencoba menyembunyikan kekhawatirannya. "Bisakah Jungwoo yang pergi?"

Soohyun menggeleng. "Sudah dicoba, tapi ini masalah yang sangat teknis dan kompleks. Arsitek utama proyek itu bersikeras aku harus datang langsung untuk meninjau detailnya. Ini menyangkut reputasi Kim Engineering & Construction, dan juga keselamatan struktur bangunan itu." Soohyun meraih tangan Jiwon. "Aku sungguh tidak ingin meninggalkanmu, Jiwon. Tapi ini benar-benar mendesak."

Jiwon memejamkan mata sejenak, menimbang-nimbang. Ia tahu, sebagai CEO Kim Engineering & Construction, ada tanggung jawab besar yang harus diemban Soohyun. Ini adalah bagian dari pekerjaan Soohyun yang dulu Jiwon kenal. Ia juga tahu, Soohyun tidak akan pernah pergi jika tidak sangat mendesak.

"Baiklah," Jiwon akhirnya berkata, membuka matanya. "Pergilah. Aku akan baik-baik saja di sini. Ada Jungwoo, dan juga Sarang."

Soohyun merasa lega sekaligus bersalah. "Terima kasih, sayang. Aku akan sering menelepon dan video call. Aku akan memastikan ada perawat yang stand-by di dekatmu jika kau butuh sesuatu."

"Tidak perlu sampai segitunya, Soohyun," Jiwon tersenyum tipis. "Aku hanya sedikit tidak enak badan, bukannya sakit parah. Aku baik-baik saja."

Keesokan harinya, suasana di apartemen terasa berbeda. Sarang, yang mendengar ayahnya akan pergi untuk beberapa hari, memeluk Soohyun erat di bandara, tidak ingin melepaskan.

"Ayah cepat pulang ya!" Sarang merengek, matanya berkaca-kaca.

"Tentu, Sayang," Soohyun mencium kening putrinya berulang kali. "Ayah akan segera pulang." Ia kemudian memeluk Jiwon erat, menciumnya dengan dalam. "Jaga dirimu baik-baik, sayang. Jika ada apa-apa, langsung telepon aku. Atau Jungwoo."

"Kau juga hati-hati di sana," Jiwon membalas, mencoba tersenyum.

Setelah Soohyun melambaikan tangan dan menghilang di balik gerbang keberangkatan, Jiwon merasakan kekosongan yang tiba-tiba. Apartemen terasa lebih sepi tanpa kehadiran Soohyun. Ia tahu ini adalah bagian dari kehidupan mereka, tetapi absennya Soohyun adalah ujian jarak yang baru.

Untungnya, Jungwoo segera mengisi kekosongan itu. Ia menelepon Jiwon beberapa kali dalam sehari, memastikan semuanya baik-baik saja, dan bahkan datang membawakan makan siang untuk Jiwon dan Sarang.

"Tuan Kim meminta saya untuk memastikan Nona Jiwon makan dengan baik," Jungwoo berkata, meletakkan kotak makan siang di meja.

Jiwon tersenyum geli. "Kau terlalu patuh pada bosmu, Jungwoo."

Namun, di balik semua dukungan itu, Jiwon tahu ia harus tetap kuat. Ini adalah ujian kecil yang harus ia hadapi sendiri, membuktikan bahwa ia tidak lagi rapuh dan bergantung pada Soohyun seperti dulu. Dan yang terpenting, ia harus menjaga dirinya tetap sehat, menanti kepulangan Soohyun yang akan segera kembali untuk melengkapi kebahagiaan mereka.

###

Sehari setelah kepergian Soohyun, Jiwon dan Sarang menghabiskan sore di taman pribadi apartemen mereka. Sarang asyik bermain dengan bola, sementara Jiwon duduk di bangku, menikmati udara segar. Tiba-tiba, perut Jiwon terasa kram hebat. Rasanya seperti diremas, dan ini bukan kram biasa yang sering ia alami ketika menstruasi. Rasa panik menyeruak. Ia juga merasakan mual dan pusing yang terasa berbeda dari masuk angin biasa. Sebersit pikiran melintas di benaknya, namun ia segera menepisnya, takut untuk berharap.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang