Grow in Heart

1K 93 6
                                        

Upacara pemberkatan baru saja selesai. Hong Haein berdiri di antara kerumunan yang bersorak, tetapi hatinya terasa hampa, dingin. Seharusnya ia tidak pernah menginjakkan kaki di gereja megah ini. Seharusnya sejak awal ia mengabaikan undangan itu, mengabaikan harapan tipis yang masih tersisa di sudut hatinya. Tapi ia datang. Dan sekarang, pemandangan di depannya—dua insan yang berbagi senyum bahagia, di hadapan Tuhan dan para saksi—terasa seperti tusukan belati dingin yang berulang kali menghantam dadanya.

Ia berbalik, tanpa peduli tatapan heran atau sapaan yang mungkin datang. Langkahnya cepat, mendesak, seolah ingin melarikan diri dari kenyataan yang baru saja terpatri dalam ingatan. Udara sore yang dingin menyapu wajahnya, sedikit melegakan paru-paru yang terasa tercekik. "Bodoh. Kau memang bodoh, Hong Haein!" bisiknya pada diri sendiri, suaranya serak karena menahan tangis. Mengapa ia membiarkan dirinya merasakan sakit ini lagi?

Ia berjalan tanpa tujuan pasti, kakinya membawanya menjauh dari gereja yang kini terasa seperti monumen pengkhianatan. Ia menemukan sebuah bangku taman yang sepi, tersembunyi di bawah rindangnya pohon yang daunnya mulai menguning. Di sana, jauh dari sorak-sorai dan senyum kebahagiaan palsu, Haein menjatuhkan diri.

Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang menggila, lalu menghembuskannya perlahan. Namun, setiap tarikan napas terasa berat, setiap hembusan diwarnai getaran yang tak terkendali. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menyerah, mengalir panas membasahi pipinya.

Ya Tuhan, apakah rasanya memang sesakit ini? Hanya dengan mengingat kembali adegan tadi, mengingat senyum mereka, kata-kata pemberkatan itu, hatinya terasa sesak. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas organ dalamnya, memutus pasokan oksigen. Ia menutup mata, bayangan itu tetap ada. Memori itu melingkupi, mencekik.

Di tengah isak tangis yang mulai pecah, suara yang familiar—dan menyebalkan—menghentikan aliran air matanya. Suara itu datang dari arah yang sedikit di belakangnya. "Apa hebatnya dia sampai bisa membuatmu seperti ini? Kau hanya membuang percuma air matamu itu," Ucap suara itu, bernada ringan, seolah penderitaan Haein adalah lelucon belaka.

Haein tersentak. Keterkejutannya lebih besar daripada kesedihannya sesaat. Ia buru-buru mengusap kasar pipinya yang basah dengan punggung tangan. Pandangannya yang buram karena air mata berusaha menangkap siluet orang di depannya. Sosok itu melangkah lebih dekat.

"Jangan menangis seperti anak kecil di tempat umum, nona. Itu tidak menarik sama sekali," Tambah suara itu, kini lebih jelas, penuh nada mengejek yang sangat dikenal Haein.

Ya. Baek Hyunwoo. Pria menyebalkan itu.

Dengan kesal, Haein menoleh sepenuhnya, tatapannya tajam meskipun matanya masih sedikit merah dan bengkak. "Mau apa kau kemari?" bentaknya, suaranya terdengar serak dan pecah. Ia tidak peduli. "Aku sedang tak ingin bertengkar denganmu."

Hyunwoo hanya tersenyum tipis. Bukan senyum simpati, melainkan senyum mengejek yang khas darinya. Ia melangkah mendekat dan berdiri di depan Haein yang masih duduk di bangku. "Heii nona," sapanya lagi, sengaja menggunakan panggilan yang paling dibenci Haein. "Aku kemari bukan untuk mengajakmu bertengkar. Aku hanya ingin sedikit menghiburmu."

Haein mendengus tak percaya. Menghibur? Dia? "Menghiburku? Omong kosong. Kau hanya ingin menggangguku," balasnya sinis.

Tanpa di duga, Hyunwoo malah santai duduk di samping Haein. Terlalu dekat. Dan sebelum Haein sempat bereaksi, tangan Hyunwoo terulur, merangkul pundaknya dengan gerakan yang sangat casual. Sentuhan itu membuat Haein bergidik.

"Ishh.. Jauhkan tangan kotormu itu dariku!" Haein segera menyingkirkan tangan Hyunwoo seolah itu adalah sesuatu yang menjijikkan. "Dan berhenti memanggilku dengan panggilan menjijikan itu!"

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang