Siang itu, udara Seoul terasa cerah, seolah ikut merayakan kebahagiaan yang menyelimuti pasangan itu. Langit biru membentang luas, dihiasi awan putih tipis, kontras dengan hiruk pikuk kota yang sibuk. Di tengah semua itu, hati Hyunwoo meluap-luap.
Setelah jam makan siang tiba, Hyunwoo sudah berdiri di lobi utama Queens Group, senyum lebar tak lepas dari wajahnya. Ia tahu Haein akan segera turun. Tangannya memegang sebuah buket kecil bunga baby's breath, putih bersih, sesederhana namun sehangat perhatiannya. Beberapa karyawan yang lewat meliriknya, berbisik-bisik, geli melihat arsitek kaku itu kini berdiri seperti pemuda dimabuk asmara. Tapi Hyunwoo tidak peduli. Matanya hanya tertuju pada pintu lift yang tak lama lagi akan terbuka.
Dan benar saja. Pintu lift terbuka, dan sosok anggun Haein muncul. Rambutnya tergerai indah, balutan blazer rapi yang tak pernah luput dari tubuhnya, memancarkan aura seorang direktur. Senyumnya merekah begitu melihat Hyunwoo, buket bunga di tangan. Seulas rona tipis menjalar di pipinya. Ia berjalan menghampiri Hyunwoo, langkahnya lebih ringan dari biasanya.
"Kau datang lagi," sapa Haein, nadanya sedikit menggoda, namun matanya memancarkan kebahagiaan. "Tidak perlu repot-repot menjemputku setiap hari, Hyunwoo."
Hyunwoo terkekeh, tangannya langsung meraih tangan Haein. "Repot apanya? Aku hanya ingin melihat istriku yang paling cantik ini. Lagipula, aku tidak bisa makan siang dengan tenang jika kau tidak ada di sisiku." Ia menyodorkan buket bunga itu. "Ini untukmu, sayang. Agar harimu lebih cerah."
Haein menerima buket itu, menghirup aromanya yang lembut. "Terima kasih, ini indah sekali." Ia melirik ke sekeliling, menyadari beberapa pasang mata masih memperhatikan mereka. "Kau ini, bisa-bisanya berulah di lobi kantor."
"Biarkan saja," Hyunwoo mengerling nakal. "Mereka harus tahu betapa aku mencintaimu." Ia menuntun Haein keluar, tangannya tak lepas dari genggaman Haein.
Mereka memutuskan untuk makan siang di sebuah restoran Korea modern yang baru buka tak jauh dari kantor, dikenal dengan interiornya yang nyaman dan masakannya yang lezat. Suasana restoran cukup ramai, dipenuhi pekerja kantoran yang sedang istirahat. Hyunwoo memilih meja di pojok, sedikit tersembunyi, agar mereka bisa menikmati privasi.
Saat mereka baru saja duduk dan Hyunwoo sedang membuka menu untuk Haein, sebuah tawa riang tiba-tiba terdengar. Seorang balita perempuan berusia sekitar tiga tahun, dengan rambut dikepang dua yang menggemaskan dan pipi tembam kemerahan, berlari-lari di lorong antara meja. Ia sedang bermain kejar-kejaran dengan ibunya, yang tampak kesulitan mengikutinya.
"Hana! Jangan lari!" seru sang ibu, mencoba meraih putrinya.
Namun, balita itu, yang terlalu asyik dengan permainannya, tidak melihat arah. Dengan langkah kecil yang cepat, ia berbelok tiba-tiba dan, bruk!, ia menabrak kaki Hyunwoo yang sedikit menjorok ke lorong. Bukan tabrakan keras, tapi cukup membuatnya kehilangan keseimbangan.
"Aduh!" pekik balita itu, lalu terduduk di lantai dengan wajah terkejut, mulai merengek pelan, matanya berkaca-kaca siap menangis.
Haein, yang duduk di seberang Hyunwoo, sedikit terkejut. Ia melihat balita itu, lalu menoleh ke Hyunwoo, sedikit khawatir akan reaksi suaminya yang biasanya kaku dengan anak kecil. Hyunwoo, yang terkejut sesaat, kini menatap balita itu.
Namun, bukannya marah atau kesal, wajah Hyunwoo justru berubah lembut. Senyum tipis mengembang di bibirnya. Tanpa ragu, Hyunwoo segera menunduk, berlutut di samping balita itu.
"Hei, hei," kata Hyunwoo dengan suara yang sangat lembut, nadanya jauh berbeda dari suara profesionalnya. "Kau baik-baik saja, cantik? Tidak ada yang sakit, kan?"
Balita itu mendongak, matanya yang besar dan bening menatap Hyunwoo. Rengekannya berhenti, tergantikan rasa penasaran. Hyunwoo tersenyum, mengulurkan tangannya yang besar dan kokoh.
