Ignited Touch 12

487 93 15
                                        

Kim Soohyun masih menggandeng tangan Kim Jiwon saat mereka masuk ke dalam mobil. Keheningan menyelimuti interior mobil, hanya dipecah oleh suara mesin yang halus. Soohyun tampak fokus pada jalanan di depan, meskipun matanya sesekali melirik Jiwon.

Jiwon sendiri merasakan jantungnya masih berdebar akibat 'hukuman' Soohyun tadi. Pipinya masih terasa hangat, dan bayangan sentuhan Soohyun masih terasa nyata. Ia melirik Soohyun. Pria itu terlihat tenang, tanpa jejak gairah yang baru saja ia tunjukkan.

"Masih gugup?" Soohyun tiba-tiba bertanya, suaranya rendah.

Jiwon mengangguk pelan. "Sedikit." Ia tidak berani menatap mata Soohyun terlalu lama. "Ini.. ini semua terlalu cepat."

Soohyun menoleh, tatapannya lekat pada Jiwon. "Aku tahu." Ia meremas tangan Jiwon pelan. "Tapi ini adalah jalan terbaik. Kau akan terbiasa."

Jiwon tidak menjawab. Terbiasa dengan semua ini? Terbiasa dengan pernikahan mendadak, kehamilan, dan CEO yang akan menjadi suaminya? Rasanya mustahil. Namun, ia juga tahu ia tidak punya pilihan.

Perjalanan menuju bandara pribadi terasa singkat, meski Jiwon merasa waktu berjalan lambat. Mereka tiba di sebuah landasan pacu kecil, tempat sebuah jet pribadi sudah menunggu. Petugas bandara dengan sigap membuka pintu mobil dan mengambil koper Jiwon dari Soohyun.

Di dalam jet pribadi yang mewah dan sunyi, Jiwon merasa lebih kecil dari sebelumnya. Ini adalah pertama kalinya ia menaiki jet pribadi. Interiornya elegan, dengan kursi-kursi kulit empuk dan fasilitas mewah. Soohyun memilih tempat duduk di dekat jendela, dan Jiwon duduk di sebelahnya.

Begitu pesawat lepas landas, Jiwon merasakan sedikit gejolak di perutnya, bukan mual, melainkan campuran antara rasa takjub dan kecemasan. Ia menatap awan di bawah mereka, melihat pemandangan kota Seoul yang perlahan mengecil.

"Kau bisa tidur sebentar jika lelah," Soohyun berkata, suaranya memecah keheningan. Ia sudah melepas jasnya, hanya mengenakan kemeja putih yang sedikit terbuka di bagian kerah, membuat penampilannya lebih santai namun tetap berwibawa.

Jiwon menggeleng. "Tidak, Oppa. Aku.. aku tidak bisa tidur."

Soohyun mengangguk mengerti. Ia meraih tangan Jiwon yang ada di sampingnya, menggenggamnya lagi. Kali ini, genggamannya terasa lebih lembut, seolah ingin menenangkan Jiwon.

Mereka melewati sisa penerbangan dalam keheningan yang nyaman. Jiwon sesekali melirik Soohyun, yang kini memejamkan mata, kepalanya bersandar di kursi. Pria itu tampak tenang, seolah tidak ada beban yang ia pikul. Jiwon bertanya-tanya, apakah ia juga merasa gugup tentang pertemuan dengan orang tuanya? Atau apakah ia selalu bisa mengendalikan emosinya dengan sempurna?

Seiring jet yang mulai menurun, pemandangan pulau Jeju yang hijau dan indah mulai terlihat. Perkebunan jeruk mandarin yang luas, garis pantai yang memukau, dan rumah-rumah tradisional yang tersebar di antara pepohonan. Jiwon merasakan jantungnya berdebar semakin kencang. Dalam hitungan menit, ia akan kembali bertemu orang tuanya, dan kali ini, ia tidak sendiri.

###

Jet pribadi mendarat mulus di bandara Jeju. Kim Soohyun dan Kim Jiwon turun, disambut oleh udara segar pulau yang khas. Soohyun sudah memesan mobil untuk menjemput mereka, dan tak lama kemudian, sebuah sedan hitam mewah melaju membawa mereka menuju perkebunan jeruk milik keluarga Jiwon.

Selama perjalanan, Jiwon semakin gelisah. Ia melirik Soohyun yang duduk di sampingnya, tenang seperti biasa. "Oppa," panggilnya, suaranya sedikit bergetar. "Mereka.. mereka mungkin akan sangat terkejut."

Soohyun meliriknya. Ia menggenggam tangan Jiwon erat, memberinya kekuatan. "Tenanglah. Sudah kubilang aku akan mengurusnya."

Mereka akhirnya tiba di rumah keluarga Kim. Sebuah rumah tradisional Korea yang megah, dikelilingi oleh hijaunya perkebunan jeruk yang luas. Aroma jeruk mandarin yang manis langsung menyergap indra Jiwon, membawa kembali kenangan masa kecilnya. Namun, kali ini, kenangan itu bercampur dengan kecemasan.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang