Malam itu, Distrik Gangnam tenggelam dalam keheningan yang basah. Hujan baru saja reda, meninggalkan aspal berkilauan memantulkan neon dingin dari papan reklame kosmetik dan mode yang mewah. Udara berbau ozon dan mesin yang terlalu panas.
Di balik fasad gudang kargo tua yang disewakan dengan harga selangit—tempat yang tidak seharusnya berada di jantung kemewahan Seoul—Detektif Kim Jiwon memberi isyarat tangan. Mantel parit hitamnya menyerap kelembapan udara. Wajahnya yang tegas dan mata elangnya hanya terfokus pada target.
"Tim A, posisi. Tim B, tunggu aba-aba. Ingat, Phoenix itu mitos. Kita cari aset keuangannya. Jangan ada tembakan kecuali diperintahkan!" perintah Jiwon melalui mic komunikasinya, suaranya rendah dan tajam, memotong kebisingan lalu lintas yang jauh.
Unit Kejahatan Kekerasan dan Kejahatan Ekonomi telah mengejar jejak Phoenix selama dua tahun, tanpa pernah melihat wajahnya atau mengetahui nama aslinya. Dia adalah hantu yang mengendalikan pasar gelap Korea.
Jiwon menendang kunci pintu gudang yang rapuh. Cahaya senter LED menembus kegelapan, menampakkan puluhan pria berpakaian bisnis, panik mencoba mengamankan laptop dan hard drive.
"Polisi! Jangan bergerak! Jatuhkan semua yang ada di tangan Anda!" teriak Jiwon.
Kekacauan pecah. Jeritan, kursi yang terbalik, dan suara langkah kaki yang panik mendominasi. Tim Jiwon bergerak cepat, tetapi Jiwon, yang selalu didorong oleh insting, tidak fokus pada perlawanan di lantai dasar. Matanya mencari pusat gravitasi di tengah badai.
Pandangannya tertuju pada tangga layanan logam di ujung gudang yang gelap. Di platform tinggi itu, terisolasi dari kekacauan, berdiri satu siluet tinggi.
Sosok itu mengenakan setelan tiga potong yang sangat mahal, bahunya lebar dan rapi, kontras dengan para preman yang panik di bawah. Dia tidak berlari. Dia tidak melawan. Dia hanya berdiri, satu tangan di saku celana, mengamati Jiwon dan timnya.
Meskipun wajahnya tersembunyi dalam bayangan pekat gudang yang hanya diterangi cahaya yang berkedip-kedip, Jiwon merasakan tarikan kuat—aura kekuasaan yang dingin dan mutlak. Sosok itu memancarkan rasa superioritas yang tenang, seolah-olah ia sedang menonton drama murahan.
Itu dia. Insting Jiwon berteriak. Itu pasti Phoenix.
Jiwon mencoba bergerak, tetapi sekelompok pria bersenjata memblokir jalannya. Baku tembak singkat terjadi; tembakan Jiwon tepat mengenai bahu salah satu antek.
Saat kekacauan mereda sesaat, Jiwon mengangkat senter kuatnya, mengarahkan sinar putih yang menyilaukan ke arah platform.
Sinar itu menyapu sosok itu hanya sepersekian detik.
Jiwon hanya sempat menangkap kilatan: garis rahang yang tegas, rambut yang tersisir rapi, dan sepasang mata gelap yang membalas tatapannya dengan keheningan yang mengganggu. Kemudian, sosok itu bergerak. Tidak panik, tetapi dengan kecepatan dan presisi yang mematikan, ia melompat ke tangga darurat di belakangnya, menghilang ke dalam labirin bangunan yang terhubung.
"Blokir semua jalan keluar di atap! Tim B, kejar yang di platform! Sekarang!" teriak Jiwon, frustrasi menggerogotinya.
Penggerebekan itu menghasilkan tangkapan besar—para middle-management dan hard drive penuh data. Tetapi target utama telah lolos.
Beberapa jam kemudian, di kantor yang remang-remang, Jiwon menatap foto-foto hasil penggerebekan. Foto-foto suspect yang mereka tangkap.
"Detektif Kim," kata atasannya, Komisaris Lee, dengan nada lelah. "Kau yakin melihat Phoenix? Tidak ada seorang pun yang tertangkap yang cocok dengan deskripsi setelan mahal itu."
