Ignited Touch 18

684 87 38
                                        

Sinar matahari pagi yang lembut menyelinap masuk melalui celah gorden, menyinari kamar tidur Kim Jiwon. Udara sejuk Seoul setelah malam yang intens terasa menyegarkan. Perlahan, Kim Jiwon membuka matanya. Ia merasakan kehangatan yang luar biasa melingkupinya. Sebuah lengan kekar melingkari pinggangnya, menariknya erat ke sebuah tubuh yang kokoh. Kim Soohyun.

Jiwon tersenyum tipis. Ia membalikkan tubuhnya perlahan, berhati-hati agar tidak membangunkan Soohyun. Wajah pria itu masih terlelap, napasnya teratur dan tenang. Rambut hitamnya sedikit berantakan, menutupi sebagian dahinya. Soohyun yang tertidur ternyata sangat berbeda ketika ia bangun. Tidak ada kerutan di dahinya, tidak ada aura dingin dan dominan yang biasa ia pancarkan. Ia terlihat lebih lembut, lebih tenang, bahkan sedikit polos dalam tidurnya.

Jiwon mengulurkan jemarinya, perlahan dan lembut, menyusuri garis rahang Soohyun. Kulitnya terasa hangat di bawah sentuhannya. Ia menelusuri bibir Soohyun yang penuh, bibir yang semalam telah membuatnya mencapai kenikmatan yang luar biasa. Jemarinya bergerak naik, menyentuh bulu mata Soohyun yang panjang, lalu turun ke pipinya. Ada gurat kelelahan yang samar di bawah matanya, bukti dari malam yang panjang dan penuh hasrat.

"Mmm.." Soohyun menggeliat pelan, merasakan sentuhan Jiwon. Matanya perlahan terbuka, menatap Jiwon dengan pandangan yang masih sedikit mengantuk namun langsung dipenuhi kelembutan.

Tanpa berkata apa-apa, ia langsung merapatkan Jiwon ke pelukannya, menarik wanita itu lebih dekat hingga tidak ada celah di antara tubuh mereka. Jiwon bisa merasakan kehangatan tubuh Soohyun yang telanjang, dan merasakan sesuatu yang keras dan sudah menegang menekan perut bagian bawahnya.

"Kau.. membangunkan diriku, Jiwon," Soohyun berbisik, suaranya serak dan dalam, masih sedikit teredam oleh kantuk. Ada nada menggoda dalam suaranya.

Jiwon terkesiap, pipinya langsung memerah. Ia merasa bersalah. Apakah sentuhannya tadi terlalu mengganggu? Jiwon langsung meminta maaf. "Maaf, Oppa! Aku tidak bermaksud membangunkanmu!" katanya cepat, berusaha melepaskan diri sedikit.

Melihat reaksi Jiwon, Soohyun terkekeh pelan. Tawanya dalam dan hangat, menggema di dada Jiwon. Ia semakin mengeratkan pelukannya. "Bukan, bukan begitu maksudku, sayang," Soohyun berkata, suaranya penuh hiburan. "Kau salah paham." Ia menunduk, mencium kening Jiwon, lalu berbisik lagi, lebih jelas dan dengan nada nakal, "Maksudku.. apa yang ada di bawah ini. Kau membangunkan 'dia'."

Jiwon membelalakkan mata, menyadari sepenuhnya maksud perkataan Soohyun. Wajahnya langsung memerah padam, lebih pekat dari sebelumnya. Rasa malu membanjirinya. Soohyun memang tidak akan pernah berhenti menggodanya. Ia bisa merasakan 'dia' yang dimaksud Soohyun semakin mengeras dan mendesak.

"Oppa!" Jiwon memukul pelan dada Soohyun, malu bukan main. Namun, sebuah senyum tipis, geli, terukir di bibirnya. Pagi ini, dimulai dengan cara yang intim dan menggoda, adalah sesuatu yang Jiwon tidak pernah bayangkan akan ia rasakan bersama Kim Soohyun.

Soohyun terkekeh lagi, membenamkan wajahnya di rambut Jiwon. "Aku suka melihatmu merona seperti itu," bisiknya. "Terlihat sangat.. menggemaskan."

Jiwon hanya bisa pasrah dalam pelukan Soohyun. Pagi itu, di ranjangnya, ia merasa lebih nyaman dan lebih dekat dengan Soohyun daripada sebelumnya.

Soohyun kemudian mengangkat kepalanya, menatap Jiwon dengan senyum lembut. "Bagaimana perasaanmu pagi ini? Tidak mual atau pusing?" tanyanya, ada nada khawatir yang jelas.

Jiwon menggeleng, menyandar di dada Soohyun. "Tidak. Aku merasa jauh lebih baik. Sepertinya tidur di pelukanmu adalah obat terbaik." Ia tersenyum malu-malu.

Soohyun tertawa pelan, lalu mencium puncak kepala Jiwon. "Kalau begitu, aku akan memastikan kau selalu tidur di pelukanku mulai sekarang." Ia menggeser tubuhnya sedikit, membiarkan Jiwon lebih nyaman bersandar. Miliknya yang sudah menegang masih terasa mendesak di perut bagian bawah Jiwon.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang