Fated 2/6

494 80 23
                                        

​Di tengah hamparan langit senja yang berdarah, kereta kuda yang mengangkut Hong Haein akhirnya berhenti di gerbang utama Istana Kekaisaran Cheon. Gerbang itu bukan terbuat dari batu kokoh seperti benteng pada umumnya, melainkan dari besi hitam legam yang diukir dengan detail naga-naga raksasa. Mereka tampak seolah hidup, siap menerjang dan menelan siapa pun yang berani melangkah masuk tanpa izin. Hembusan angin dingin menyambut kedatangan Haein, seakan membisikkan peringatan tentang nasib yang menantinya.

​Di sana, di bawah lengkungan gerbang yang menjulang tinggi, ia bertemu kembali dengan Pangeran Baek Hyunwoo.

​Hyunwoo berdiri tegak, membiarkan jubah hitamnya yang disulam naga emas berkilau tertiup angin. Aura kekuasaannya begitu pekat, seolah membekukan udara di sekitarnya. Para pengawal dan pelayan yang berbaris di belakangnya tampak seperti bayangan tak bernyawa, keberadaan mereka pudar di bawah dominasi sang Pangeran. Mata tajamnya, seolah dua bilah pedang yang diasah, menatap lurus ke arah kereta kuda yang baru tiba. Tatapannya langsung jatuh pada Haein saat ia melangkah turun, seolah ia sedang memeriksa barang sitaan yang baru saja tiba. Dingin, tanpa emosi, dan penuh perhitungan.

​"Selamat datang di Kekaisaran Cheon," sapa Hyunwoo, suaranya dalam dan berwibawa, namun tanpa nada ramah sama sekali. "Putri Hong Haein."

​"Terima kasih, Pangeran," jawab Haein. "Tolong panggil saya Haein." Ia tahu, menghilangkan formalitas adalah cara untuk menunjukkan bahwa ia bukan sekadar tamu.

​Hyunwoo mengangkat alisnya sedikit, terkejut dengan keberaniannya. Namun, ia tidak berkomentar. Ia hanya menunjuk ke arah istana di belakangnya. "Ikut aku. Aku akan menunjukkan di mana kau akan tinggal."

​Haein mengikuti Hyunwoo melewati taman-taman yang luas dan koridor-koridor yang megah, yang dilapisi dengan marmer putih bersih dan dihiasi dengan permadani mahal. Namun, kemegahan itu terasa kosong. Tidak ada kehangatan di dalamnya. Istana ini terasa seperti makam yang dingin dan sunyi.

​Ketika mereka memasuki bagian istana tempat tinggalnya, Haein melihat beberapa pelayan yang sudah menunggu. Wajah mereka tegang dan mata mereka dipenuhi kecurigaan.

​"Mulai hari ini," kata Hyunwoo kepada para pelayan, suaranya tegas. "Putri Haein akan tinggal di sayap ini. Perlakukan dia dengan hormat, tetapi awasi setiap gerakannya. Laporkan semua yang mencurigakan padaku."

​Kalimat itu bagai petir. Haein tahu, ia bukan permaisuri yang disambut, melainkan tawanan yang diizinkan untuk hidup. Ia menoleh ke arah Hyunwoo. "Pangeran, saya di sini untuk bekerja sama. Bukan untuk diawasi seperti kriminal."

​Hyunwoo berbalik, menatapnya dengan tajam. "Walaupun kau calon permaisuriku, kau harus tetap diawasi, Putri. Dan aku memang telah menerima lamaranmu, tetapi itu tidak menghapus fakta bahwa kau adalah putri dari kerajaan musuh. Jika kau ingin diperlakukan dengan hormat, buktikanlah bahwa kau pantas mendapatkannya."

​Ia kemudian menunjuk ke arah seorang pelayan tua yang berdiri di dekat pintu. "Dia adalah Kepala Pelayan di sayap ini. Jika kau membutuhkan sesuatu, katakan padanya. Tapi jangan pernah mencoba melarikan diri."

​Tanpa menunggu balasan, Hyunwoo berbalik dan pergi, jubahnya berkibar di belakangnya. Kepergiannya meninggalkan keheningan yang lebih berat dari sebelumnya. Para pelayan kini menatap Haein, dan Haein tahu, ia harus mengambil kendali atas situasi ini.

​Ia melihat ke dalam ruangan yang akan menjadi miliknya. Ruangan itu besar, namun perabotannya minimalis dan tampak kuno. Dindingnya polos, dan tidak ada hiasan yang menghangatkan suasana.

​"Tolong bawa semua barang-barang saya ke dalam," perintah Haein pada para pelayan.

​Seorang pelayan muda, yang terlihat paling ramah, melangkah maju. "Barang apa yang Anda maksud, Yang Mulia?" tanyanya, suaranya ragu-ragu. "Hanya ada satu koper kecil ini yang datang bersama Anda."

Oneshoot!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang