Malam itu, dinginnya Seoul menusuk hingga ke tulang, meresap melalui jendela kaca raksasa di ruang makan keluarga Kim. Bukan hanya suhu di luar yang membekukan, tetapi juga atmosfer di dalam ruangan. Lapisan es tak kasat mata itu terasa setebal dinding marmer, menghimpit setiap sudut keheningan yang menyesakkan. Kim Jiwon, duduk tegak di salah satu ujung meja mahoni panjang, gaun sutra birunya membalut tubuhnya dengan elegan, namun ekspresi wajahnya begitu kaku, seolah dipahat dari es abadi. Di hadapannya, tak jauh, duduklah Kim Soohyun, perawakannya tegap dan raut wajahnya tenang, nyaris tanpa riak emosi. Tatapan Jiwon terhadap pria itu adalah campuran antara rasa ingin tahu yang tersembunyi-seperti mengintip celah kecil di balik tirai-dan penolakan yang terang-terangan, sebuah perisai yang ia angkat tinggi.
"Soohyun-ssi, kudengar perusahaanmu berhasil melampaui target tahun ini dengan margin yang sangat signifikan," suara renyah Park Eunkyung, ibu Jiwon, memecah keheningan yang panjang dan berat. Ia mencoba mencairkan suasana dengan senyum manis yang sedikit dipaksakan, berusaha mengisi kekosongan yang terasa begitu nyata.
Soohyun mengangguk singkat, nyaris tak terlihat. "Kami berusaha keras, Nyonya Park. Setiap anggota tim memberikan yang terbaik." Nada suaranya datar, tanpa intonasi yang berarti, seolah ia sedang membacakan laporan keuangan daripada terlibat dalam percakapan sosial. Jiwon mendengus pelan, nyaris tak terdengar, namun cukup bagi Soohyun untuk menangkapnya. Ia benci sikap Soohyun yang terlalu sopan, terlalu formal, seolah-olah ia sedang bernegosiasi bisnis bernilai triliunan won, bukan bertemu dengan calon istri yang akan berbagi hidup dengannya.
Kim Gyuho, ayah Jiwon, yang biasanya penuh wibawa dan karisma, tampak lebih santai malam ini. "Kita semua tahu itu bukan hanya 'berusaha', Soohyun-ssi. Anda adalah salah satu CEO termuda yang paling visioner dan sukses di negara ini. Pencapaian Anda di usia semuda ini sungguh luar biasa." Ia menoleh ke arah Jiwon, menyikutnya pelan di bawah meja. "Jiwon-ah, bukankah begitu? Kamu harus belajar banyak dari Soohyun."
Jiwon mengernyit, merasa tertekan dan kesal. Ia tak sudi ikut memuji pria ini. "Kesuksesan bisnis dan kesuksesan pribadi adalah dua hal yang berbeda, Ayah," sahut Jiwon, menekan kata 'pribadi' dengan sengaja, mengucapkannya dengan intonasi yang menusuk. Ia melemparkan tatapan menantang ke arah Soohyun, seolah ingin melihat reaksi, ingin melihat secercah emosi, bahkan kemarahan, di mata pria itu. Ia ingin Soohyun menunjukkan bahwa ia bukan robot tanpa perasaan.
Soohyun hanya menanggapinya dengan tatapan yang sulit diartikan, seolah kata-kata Jiwon hanyalah angin lalu yang tak perlu dihiraukan. Sedetik kemudian, pandangannya beralih ke arah Choi Seoah, ibunya, yang duduk di sampingnya dengan senyum tipis, menyiratkan kebanggaan dan sedikit kelelahan karena sikap kaku putranya. "Maafkan saya, Jiwon-ssi. Saya tidak bermaksud bersikap kurang ajar atau meremehkan. Saya hanya.. kurang pandai dalam percakapan informal. Saya terbiasa dengan bahasa yang lebih lugas dan terstruktur."
Kim Beomseok, ayah Soohyun, tertawa ringan, berusaha mencairkan suasana yang kembali membeku. "Soohyun memang begitu, Jiwon-ssi. Dia lebih suka bicara dengan angka dan grafik, strategi dan proyeksi, daripada basa-basi atau obrolan santai. Tapi dia anak yang baik, dan sangat bertanggung jawab. Loyalitasnya terhadap pekerjaan dan keluarga tak perlu diragukan."
Anak baik, bertanggung jawab, dan.. membosankan, batin Jiwon sarkastis, menyesap tehnya dengan tenang, matanya mengamati Soohyun dari balik cangkir. Pria itu tampak sempurna secara lahiriah, tinggi semampai, proporsional, dengan fitur wajah yang tajam seperti pahatan. Ia mengenakan setelan gelap yang mahal, setiap jahitannya menunjukkan kualitas kelas atas, membungkus tubuhnya dengan sempurna. Namun, ada semacam aura dingin yang mengelilinginya, seolah ada dinding tak kasat mata yang melindunginya dari dunia, dari emosi, dari interaksi manusia biasa. Jiwon merasakan dorongan aneh untuk mencoba memecahkan dinding itu, hanya untuk melihat apa yang ada di baliknya.
