Setelah pertarungan pedang di arena, hubungan antara Hong Haein dan Baek Hyunwoo sedikit berubah. Tidak lagi hanya pengawasan, tetapi juga ketertarikan yang dalam. Hyunwoo mulai memanggil Haein ke ruang kerjanya, bukan untuk menginterogasinya, melainkan untuk berdiskusi. Ia ingin tahu, sejauh mana "pengetahuan dari mimpinya" itu bisa membantunya.
Suatu malam, Haein dipanggil ke ruang kerja pribadi Hyunwoo. Ruangan itu besar, dipenuhi rak-rak buku tua yang menjulang tinggi dan peta-peta yang digantung di dinding. Aroma kertas dan tinta yang khas memenuhi udara. Di tengah ruangan, sebuah meja kayu besar dipenuhi dengan peta Kekaisaran Cheon dan negara-negara tetangga.
Hyunwoo menunggunya di depan perapian, wajahnya tenang namun matanya penuh dengan pikiran. "Duduklah, Putri," katanya, menunjuk kursi di seberang meja. "Aku ingin menanyakan sesuatu padamu."
Haein duduk, menatap peta-peta yang terpampang. Ia tahu peta-peta itu, setiap perbatasan, setiap benteng, setiap jalur perdagangan. Ia telah melihatnya dalam enam kehidupan yang tak terhitung jumlahnya.
"Aku akan memberitahumu satu hal," kata Hyunwoo, suaranya pelan dan serius. "Kami memiliki laporan intelijen bahwa Kerajaan Liyuan berencana untuk menyerang benteng perbatasan timur kami. Mereka akan melakukannya dengan dalih latihan militer, tapi tujuannya adalah memprovokasi kami." Hyunwoo menunjuk sebuah titik di peta dengan jari telunjuknya. "Jika mereka menyerang di sini, kami akan membalas dengan kekuatan penuh. Itu akan memicu perang besar."
Haein tidak terkejut. Ia telah melihat skenario ini berulang kali, walau dengan berbagai cara yang berbeda. Ini adalah awal dari kehancuran Silla dan kerajaan-kerajaan lainnya.
"Jangan lakukan itu," kata Haein, suaranya mantap, memecah kesunyian yang mencekam.
Hyunwoo mengerutkan kening. "Apa maksudmu? Kita tidak bisa membiarkan mereka melanggar kedaulatan kita."
"Tentu saja tidak," jawab Haein. "Tapi membalas dengan kekuatan militer adalah hal yang mereka inginkan. Itu akan menghabiskan sumber daya Kekaisaran, dan yang terpenting, itu akan memberikan alasan pada Kerajaan Liyuan untuk meminta bantuan dari negara-negara lain, termasuk Kerajaan Silla."
Hyunwoo menatapnya dengan curiga. "Bagaimana kau tahu semua ini? Kau tidak memiliki akses ke laporan intelijen."
Haein mengabaikan pertanyaannya, fokus pada peta. Ia berjalan ke meja dan menunjuk ke titik di peta. "Di sini, Pangeran, ada ladang gandum yang besar. Ladang ini adalah pemasok utama gandum untuk Kerajaan Liyuan. Di dalam mimpiku, ladang ini hancur karena kekeringan yang berkepanjangan. Kekeringan itu akan datang dalam dua bulan."
Hyunwoo menatapnya, tidak percaya. "Kau memintaku untuk menunggu kekeringan?"
"Aku memintamu untuk menggunakan informasi itu untuk bernegosiasi," kata Haein. "Kirim utusan ke Kerajaan Liyuan. Tawarkan mereka aliansi perdagangan. Tawarkan mereka pasokan gandum dari gudang kita, yang baru saja kita atur, sebagai ganti untuk perdamaian. Katakan pada mereka bahwa kita tahu apa yang mereka rencanakan, tapi kita tidak akan menyerang jika mereka mau bernegosiasi. Kekaisaran Cheon akan terlihat sebagai pihak yang bijaksana dan kuat, sementara Liyuan akan terlihat sebagai pihak yang impulsif."
Hyunwoo terdiam. Strategi itu brilian. Itu tidak hanya akan menghindari perang, tetapi juga akan memberikan keuntungan politik dan ekonomi bagi Kekaisaran Cheon. Ia tidak harus mengorbankan pasukannya, dan ia akan mendapatkan sekutu baru.
Namun, ia tetap ragu. "Bagaimana jika kau salah? Bagaimana jika kekeringan itu tidak datang? Bagaimana jika mereka menyerang saat kita lengah?"
Haein menatapnya. Matanya dipenuhi dengan tekad. "Aku bersumpah demi nyawaku, Pangeran. Kekeringan itu akan datang. Dan jika aku salah.. gunakan saja kepalaku sebagai alat perdamaian. Aku akan bertanggung jawab."
