Kim Soohyun terbangun.
Matanya mengerjap perlahan, menyesuaikan diri dengan bias cahaya pagi yang lembut yang menyusup malu-malu dari celah gorden jendela kamar mereka. Itu adalah cahaya keemasan yang menandakan matahari baru saja menyentuh cakrawala, dan Soohyun menahan napas. Ia menghirup dalam-dalam. Bukan bau tajam antiseptik atau bau logam dari alat-alat medis yang selama ini menjadi teman setianya, bukan hawa dingin dari AC rumah sakit yang menusuk tulang, melainkan aroma yang jauh lebih menenangkan.
Aroma Jiwon. Perpaduan wangi lembut lavender dari sabun mandi yang selalu wanita itu pakai dan aroma alami yang hangat, aroma kulit yang khas, kini memenuhi seluruh kamar. Aroma rumah, aroma kehidupan, yang ia rindukan hingga ke tulang. Aroma yang terasa seperti jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam kegelapan.
Ia menoleh ke samping, melakukan gerakan itu tanpa rasa sakit yang mencekik.
Pemandangan itu, meskipun sederhana—hanya istrinya yang tidur—terasa seperti sebuah keajaiban nyata yang dikirim dari surga. Kim Jiwon terlelap pulas di sebelahnya. Wajahnya yang damai, meskipun masih tersisa lingkaran hitam tipis di bawah mata—bekas berhari-hari berjaga tanpa tidur, berjuang di kantor dan di rumah sakit—tampak begitu cantik. Perutnya yang besar dan membulat sempurna, menampung si kembar yang kini berukuran penuh, adalah saksi bisu perjuangan mereka.
Jiwon tidur miring ke arahnya, satu tangan memeluk erat perutnya yang membuncit, seolah menjaga permata paling berharga. Napasnya teratur, lembut dan dalam. Soohyun bisa merasakan panas tubuhnya, kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan.
Soohyun merasakan gelombang emosi membanjiri dadanya. Rasa syukur yang tak terhingga, cinta yang meluap-luap, dan sedikit rasa bersalah karena telah membuat istrinya melalui badai itu sendirian, sambil membawa dua nyawa di dalam rahimnya.
Ia mengulurkan tangannya yang kini sudah bisa digerakkan dengan bebas. Perlahan, dengan hati-hati agar tak membangunkannya, jemarinya membelai lembut beberapa helai rambut Jiwon yang terurai di bantal.
Sentuhan lembut itu rupanya cukup untuk membangunkan Jiwon. Kelopak matanya terbuka perlahan. Pandangannya yang sedikit kabur berangsur jernih, dan saat melihat wajah Soohyun yang berjarak begitu dekat dengannya, senyum lembut nan lega merekah. Senyum itu menghilangkan semua kelelahan di wajahnya, seolah ada matahari yang terbit di dalam kamar mereka.
"Selamat pagi, Sayang," bisik Jiwon, suaranya serak khas orang baru bangun tidur, seperti melodi yang diseret bantal. Ia meraih tangan Soohyun yang membelai rambutnya, lalu mencium punggung tangan suaminya. Ciuman hangat itu terasa seperti sumpah. "Senang sekali melihatmu ada di sini.. di sisi tempat tidur yang seharusnya."
Soohyun mendekat, mencium lembut dahi Jiwon, merasakan kelembutan kulit wanita itu di bibirnya.
"Aku yang harusnya bilang begitu," bisik Soohyun, suaranya dalam dan penuh emosi. "Selamat pagi, Istriku yang paling kuat." Ia menggeser tubuhnya, menyandarkan kepalanya ke bantal dengan lebih nyaman. "Aku masih tidak percaya ini nyata. Aku bangun, dan bukan perawat yang menyambutku, melainkan kau, di sampingku. Di ranjang kita. Aku takut ini hanya mimpi indah."
Jiwon tertawa pelan, tawanya merdu seperti melodi yang hilang dan kini ditemukan kembali. "Ini nyata, Soohyun. Kita berhasil membawa Pilar Kebahagiaan kita kembali ke tempat seharusnya." Ia mengangkat tangan, menyentuh pelipis Soohyun, tempat bekas lukanya kini hanyalah garis merah tipis yang mulai mengering. "Bagaimana perasaanmu? Ada yang sakit? Kepala atau punggungmu?"
Soohyun menggeleng, menikmati sentuhan Jiwon. "Tidak ada. Hanya.. rasa lega. Rasa damai yang luar biasa. Dan yang paling penting," ia menatap mata Jiwon dengan intens, "Aku merasakan cinta yang tak pernah berhenti kau berikan. Aku tidak tahu bagaimana caraku bisa hidup tanpa kau di sana, berjuang demi aku, demi perusahaan, demi anak-anak kita."
