Beyond the Boundary 16

468 80 16
                                        

​Malam telah tiba di ruang perawatan. Setelah makan malam yang ringan dan memuaskan, Hong Haein sudah membersihkan diri. Baek Hyunwoo menyelesaikan panggilan video terakhirnya dengan Sekretaris Min, memastikan bahwa semua dokumen pemecatan Direktur Choi sudah selesai dan tidak menyisakan celah hukum.

​Hyunwoo berjalan ke sisi Haein, memastikan selimutnya terpasang dengan nyaman dan infus Haein berfungsi normal.

​"Bisnis selesai untuk hari ini, sayang," kata Hyunwoo, meletakkan ponselnya di atas nakas, kali ini dalam mode pesawat. "Hanya ada kita sekarang."

​Haein menatap langit-langit sejenak, wajahnya menunjukkan kelelahan yang menyenangkan. "Aku bosan melihat langit-langit ini, Hyunwoo."

​"Aku tahu," balas Hyunwoo, menarik kursi untuk duduk di sampingnya. "Tapi Dokter Park bilang kau menunjukkan kemajuan luar biasa. Kontraksi sudah berhenti total, dan tekanan darahmu stabil. Ini semua berkat istirahat mutlak yang kau benci itu."

​Haein memutar matanya, tetapi senyum tersungging di bibirnya. "Aku hanya bisa stabil karena ada kau di sini. Tapi sungguh, sayang, kapan aku bisa pulang? Aku merindukan tempat tidurku sendiri."

​Hyunwoo mengusap tangan Haein. "Dokter Park akan melakukan pemeriksaan terakhir besok pagi. Jika hasilnya sesuai harapannya, mungkin besok sore. Tapi kau harus berjanji padaku: di rumah, kau tetap akan istirahat total. Kau hanya boleh menonton TV dan membaca."

​"Aku janji," kata Haein cepat. "Aku akan menjadi patuh. Asal aku bisa keluar dari sini. Aku tidak suka berbau rumah sakit."

​"Aku juga tidak suka," bisik Hyunwoo, mencium punggung tangan Haein. "Kita akan keluar dari sini dan pergi ke suatu tempat di mana tidak ada media, tidak ada keluarga, dan tidak ada tuntutan chaebol untuk sementara waktu."

​Setelah beberapa saat, Hyunwoo bangkit dari kursi, bersiap untuk menuju sofa di sudut.

​"Selamat malam, sayang," katanya, membungkuk untuk mencium kening Haein. "Aku akan berada di sini, seperti biasa."

​Haein menahan tangan Hyunwoo, genggamannya lemah namun penuh tekad.

​"Tunggu," pinta Haein. "Kau mau tidur di sofa yang keras itu lagi?"

​"Aku sudah terbiasa. Lagipula, aku harus siap siaga," jawab Hyunwoo.

​"Aku tahu," kata Haein, menatap mata Hyunwoo dengan intensitas yang membuat hatinya mencair. "Tapi malam ini, aku benar-benar tidak ingin kau di sana."

​Haein menepuk ruang kosong di sampingnya di ranjang rumah sakit. "Malam ini, tidurlah lagi di sini, sayang. Aku tahu aku aman, dan Komet aman. Tapi aku merasa paling damai saat aku bisa merasakan napasmu, saat kau ada di sebelahku."

​Wajah Haein sedikit merona. Permintaan ini, meskipun sederhana, mengandung kerentanan yang dalam. Ia adalah Ratu Es yang dingin, tetapi sebagai seorang istri dan ibu, ia sangat membutuhkan kehangatan suaminya.

​Hyunwoo tidak bisa menolak permintaan itu. Ia melepaskan jasnya, dan dengan hati-hati, ia menyelinap ke sisi ranjang Haein.

​Ia menarik selimut ke atas mereka berdua, dan sekali lagi, ia memeluk Haein dengan longgar, tangannya diletakkan protektif di atas perut Haein.

​"Tentu saja, sayang. Aku akan selalu ada di sini," bisik Hyunwoo, suaranya dipenuhi janji yang tak terucapkan.

​Haein menyandarkan kepalanya di dada Hyunwoo, mendengarkan detak jantung suaminya yang stabil dan kuat—detak jantung perisai hidupnya.

​"Aku mencintaimu," gumam Haein, hampir tidak terdengar, sebelum ia terlelap dalam pelukan yang penuh kedamaian itu.

​Hyunwoo memejamkan mata, memeluk erat harta karunnya. Di tengah benteng yang ia ciptakan, mereka berdua menemukan tidur yang paling tenang, menantikan hari esok yang mungkin akan membawa mereka kembali ke rumah.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang