Kim Jiwon menyadari bahwa komunikasi verbal antara kedua sisi Kim Soohyun masih sangat terbatas dan menyakitkan. Untuk memfasilitasi integrasi dan mengurangi kecemasan Soohyun yang 'dingin' atas 'lubang hitam' dalam ingatannya, Jiwon memberikan solusi yang lebih aman dan terstruktur.
Ia membelikan Soohyun sebuah buku harian kulit hitam yang elegan, dengan kertas tebal, yang kini menjadi jembatan dua jiwa. Aturannya sederhana: Setiap kali salah satu kepribadiannya 'muncul', ia harus menuliskan perasaan, pikiran, kegiatan, dan apa pun yang terjadi pada hari itu.
24 September.
Jiwon sedang menunggu Soohyun selesai mandi. Ia mengambil buku harian itu dari laci nakas, membukanya. Halamannya telah terisi.
Tulisannya rapi, tegang, dan formal, dengan huruf-huruf yang dicetak miring, seolah setiap kata harus dipertimbangkan secara hukum. Ia tahu, ini adalah tulisan Soo.
Aku merasa lelah secara mental. Jiwon memberiku buku ini. Aku tidak mengerti tujuan dari tulisan-tulisan yang bersifat emosional seperti ini, tetapi aku akan mencoba demi menjaga stabilitas situasi.
Aku tidak ingat apa yang terjadi kemarin malam. Tapi Jiwon bilang, dia dan aku menonton film komedi romantis. Aku merasa terganggu. Aku tidak tahu bagaimana 'dia' bisa begitu bebas dan tanpa kendali. Aku tidak mengerti bagaimana 'dia' bisa tertawa untuk sesuatu yang tidak produktif. Aku merasa sangat cemas.
Aku melihat Jiwon. Dia terlihat.. bahagia. Dan itu membuatku takut. Aku takut kebahagiaan itu disebabkan oleh 'dia'. Aku tidak tahu apa yang 'dia' lakukan. Aku takut 'dia' akan mengatakan atau melakukan hal-hal yang dapat menyakiti Jiwon secara permanen. Aku takut 'dia' akan membuat Jiwon terlalu bergantung, lalu menghilang, meninggalkan kekacauan yang membuatku harus bertanggung jawab. Aku.. aku benci ketidakmampuan ini.
Jiwon tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca. Ia bisa merasakan kecemasan Soo di setiap kata yang kaku itu. Ia tahu Soo khawatir, dan ia menghargai kejujuran mentah yang datang dari ketakutan pria itu.
26 September.
Jiwon terbangun lebih dulu. Ia mengambil buku harian itu, ingin tahu apakah ada pesan baru. Terdapat tulisan baru di bawah pesan Soo. Tulisan itu lebih santai, lebih bersambung, dan memiliki sentuhan seni yang lebih lembut. Ini pasti Hyun.
Hei kawan. Kau selalu khawatir berlebihan. Kau membuat Jiwon cemas dengan kekakuanmu!
Aku melihat apa yang kau tulis. Kau tidak perlu khawatir, karena aku tidak akan pernah menyakitinya. Itu adalah satu-satunya aturan yang tidak bisa kita langgar. Aku mencintainya lebih dari yang bisa kau bayangkan—mungkin kau yang harus mencoba merasakannya.
Tentu saja kita menonton film! Itu indah! Jiwon tertawa! Itu adalah pemandangan terbaik. Aku tahu ini sulit bagimu, tetapi percayalah, kita harus bekerja sama. Kita harus menjadi utuh. Kita tidak bisa meninggalkannya sendirian. Kita ingin membuat Jiwon bahagia. Dia wanita yang terlalu baik untuk kita.
Aku janji, aku akan meninggalkan catatan yang lebih detail tentang perasaanku. Kau harus coba rileks saat kau muncul.
Air mata menggenang di mata Jiwon. Ia menutup buku harian itu, lalu meletakkannya di meja sarapan, hatinya penuh dengan resolusi baru. Beberapa menit kemudian, Soohyun muncul dari kamar tidur, sudah berpakaian formal, tetapi matanya lebih lembut dari biasanya. Jelas ia sudah membaca balasan Hyun. Ada rasa malu, tetapi juga rasa lega.
Mereka duduk sarapan dalam keheningan yang nyaman, bukan dingin. Jiwon memperhatikan Soohyun. Pria itu menatap cangkir kopinya, mencoba mengumpulkan keberanian.
"Jiwon," Soohyun memulai.
"Ya?"
"Aku.. aku membaca catatan dia," katanya, menggunakan istilah netral untuk Hyun.
