Where the Heart Leads (After Married) 2/4

447 84 8
                                        

Setelah kebahagiaan mengetahui kehamilan Haein, Hyunwoo diliputi rasa khawatir yang mendalam. Ia tahu betul betapa berat dan melelahkannya pekerjaan Haein sebagai seorang ahli bedah jantung di rumah sakit ternama. Jam kerjanya yang panjang, operasi yang rumit, dan tekanan yang tinggi membuatnya cemas akan kesehatan Haein dan calon bayi mereka.

Di rumah, Hyunwoo berusaha untuk bersikap tenang dan mendukung Haein, namun ia tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya setiap kali Haein bersiap untuk pergi bekerja.

"Sayang, apa kamu yakin kamu baik-baik saja?" tanya Hyunwoo suatu pagi saat Haein sedang sarapan. Ia menatap Haein dengan tatapan penuh perhatian. "Mungkin kamu bisa mengurangi sedikit jadwal operasimu untuk sementara waktu?"

Haein tersenyum tipis, mencoba meyakinkan suaminya. "Aku baik-baik saja, Hyunwoo. Ini masih awal kehamilan. Aku masih kuat." Ia mengusap perutnya yang masih datar. "Aku tidak mau mengecewakan timku dan pasien-pasienku."

"Tapi Haein.." Hyunwoo mencoba membujuk, suaranya lembut namun penuh kekhawatiran. "Ini bukan hanya tentang kamu. Ada bayi kita juga. Aku takut kamu terlalu lelah dan itu bisa membahayakan kalian berdua."

"Aku tahu, Hyunwoo," balas Haein sambil menggenggam tangan suaminya. "Aku akan berhati-hati. Aku akan mendengarkan tubuhku. Kalau aku merasa tidak enak, aku pasti akan istirahat. Percayalah padaku."

Hyunwoo menghela napas pelan. Ia tahu betapa keras kepalanya Haein jika sudah menyangkut pekerjaan. Ia tidak ingin berdebat lebih lanjut, namun rasa cemasnya tetap membayangi.

"Baiklah," kata Hyunwoo akhirnya, meskipun hatinya masih ragu. "Tapi berjanjilah padaku, jika kamu merasa sedikit saja tidak enak, kamu harus segera memberitahuku atau Mina."

"Aku janji," jawab Haein sambil tersenyum meyakinkan. Ia berdiri dan mencium pipi Hyunwoo. "Aku harus pergi sekarang. Jangan terlalu khawatir, ya."

Meskipun Haein bersikeras bahwa ia baik-baik saja, Hyunwoo tidak bisa menghilangkan rasa khawatirnya. Setiap pagi, ia akan menyiapkan sarapan sehat untuk Haein, memastikan istrinya itu tidak melewatkan makan. Ia juga selalu mengingatkannya untuk membawa bekal buah-buahan dan air minum yang cukup ke rumah sakit.

Di malam hari, setelah Haein pulang dengan wajah yang terlihat lelah, Hyunwoo akan langsung menyambutnya dengan pelukan hangat dan menanyakan kabarnya. Ia akan membantu Haein melepaskan sepatunya, menyiapkan air hangat untuk berendam, atau memijat bahunya yang tegang.

"Bagaimana operasimu hari ini, sayang?" tanya Hyunwoo suatu malam saat ia sedang memijat kaki Haein yang terasa pegal.

"Lumayan lancar," jawab Haein sambil menghela napas. "Ada satu kasus yang cukup rumit, tapi semuanya berjalan dengan baik."

Hyunwoo bisa melihat jelas kelelahan di mata Haein, meskipun istrinya itu berusaha untuk menyembunyikannya. "Kamu yakin tidak terlalu lelah? Mungkin besok kamu bisa mengurangi jadwalmu?"

"Aku akan mempertimbangkannya," jawab Haein, meskipun Hyunwoo tahu istrinya itu mungkin tidak akan melakukannya.

Hyunwoo hanya bisa menghela napas dalam hati. Ia merasa frustrasi karena Haein tidak mau mendengarkannya, namun ia juga tidak ingin membuat istrinya merasa tertekan. Ia hanya bisa terus memberikan perhatian dan dukungan sebisa mungkin, berharap Haein akan segera menyadari betapa pentingnya menjaga kesehatan diri dan bayi mereka.

Setiap kali Haein akan berangkat kerja, Hyunwoo selalu mengantarnya sampai depan pintu, mencium keningnya, dan mengingatkannya untuk berhati-hati. Di dalam hati, ia selalu berdoa agar Haein dan bayi mereka selalu dalam lindungan Tuhan. Kekhawatirannya terus membayangi setiap aktivitas Haein di rumah sakit, namun ia berusaha untuk tetap tegar dan memberikan dukungan yang dibutuhkan istrinya, sambil berharap Haein akan segera menyadari pentingnya beristirahat demi kesehatan mereka berdua.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang