Galeri Seni Kontemporer 'Hwajung' itu tenang, cahayanya lembut, dan udaranya beraroma cat minyak dan kayu tua—persis seperti yang Baek Hyunwoo janjikan. Mereka berjalan berdampingan, menjaga jarak profesional yang biasa mereka miliki, tetapi Hong Haein merasakan jarak itu berlipat ganda karena kata-kata Hyunwoo di mobil.
"Aku.. aku rasa aku jatuh cinta padamu, Hong Haein."
Haein menatap salah satu lukisan abstrak yang didominasi warna merah marun dan hitam, tetapi matanya tidak benar-benar memproses warna-warna di kanvas. Pikirannya dipenuhi suara Hyunwoo.
Bagaimana mungkin? Cinta? Mereka saling membenci, bersaing. Mereka hanya terikat oleh keputusasaan dan kebetulan. Cinta adalah risiko yang paling besar, dan Haein tidak pernah mengambil risiko emosional. Ia selalu mengendalikan narasi hidupnya.
Hyunwoo berjalan sedikit di depannya, sesekali menoleh untuk memastikan Haein tidak lelah.
"Ini," kata Hyunwoo, menunjuk sebuah patung perunggu minimalis berbentuk spiral yang rumit. "Aku suka ini. Simpel, kuat, tetapi ada kerentanan di dasarnya, seolah bisa runtuh jika disentuh. Sama sepertimu, Haein."
Haein menatap patung itu, lalu beralih menatap Hyunwoo. Ia berusaha membaca apakah ada keraguan, kebohongan, atau permainan lain di mata Hyunwoo. Tidak ada. Hyunwoo terlihat tulus, dan sedikit gugup, seperti seorang mahasiswa yang menunggu nilai ujiannya.
"Itu hanya patung, Hyunwoo. Jangan terlalu dilebih-lebihkan," balas Haein, mencoba mengembalikan atmosfer formal. "Filosofi yang tidak perlu."
"Kau yang selalu bilang bahwa seni adalah refleksi jiwa dan interpretasi adalah kunci," balas Hyunwoo, suaranya pelan dan mantap. Ia tidak menekan, hanya menyatakan fakta yang baru ia temukan. "Aku sedang mencoba membaca jiwaku sendiri, Haein. Dan di sana, aku menemukanmu. Dalam setiap keputusan dan setiap kekhawatiran yang kualami."
Haein buru-buru berbalik, berjalan menuju lukisan pemandangan desa Korea yang tenang di ruangan berikutnya. Kakinya terasa berat, bukan karena kehamilan, melainkan karena beban pengakuan itu.
Dia mencintaiku.
Ia berhenti di depan lukisan pemandangan desa yang terlihat sangat damai. Biasanya, lukisan seperti ini akan memberinya kedamaian. Sekarang, hanya ada kekacauan emosi.
Haein mengingat semua tindakan Hyunwoo. Cincin yang melingkar di jarinya terasa panas, bukan dingin. Perhatiannya, bubur, teh, bahkan pertanyaan konyol tentang "plum" yang menendang. Semua itu tidak masuk akal jika hanya didasarkan pada kontrak dan manajemen risiko.
Kecuali.. kalau itu benar-benar cinta yang tumbuh tanpa ia sadari.
Hyunwoo datang dan berdiri di sampingnya. Kali ini, ia menjaga jarak yang sangat tipis, tidak menyentuh, hanya berdiri, menjadi penyangga yang diam.
"Lukisan ini bagus," ujar Hyunwoo, suaranya jauh lebih lembut. "Terlihat sangat damai, tapi kau tahu, untuk mencapai kedamaian itu, senimannya pasti melalui perjuangan yang panjang dan kacau. Kedamaian adalah hasil akhir dari kekacauan."
Haein menoleh ke Hyunwoo, memotong pandangan ke lukisan itu. "Kau selalu mengaitkan seni dengan masalah pribadi kita sekarang. Kau sudah kehilangan objektivitas."
"Karena kau adalah masalah pribadiku yang paling menarik dan berharga," balas Hyunwoo, tersenyum kecil, membiarkan pertahanannya turun. Ia menundukkan kepala sedikit. "Dengar, Haein. Aku tidak mengharapkan jawaban sekarang. Aku tidak mengharapkan apa-apa. Aku hanya ingin jujur. Aku tidak mau kau berpikir semua yang aku lakukan, terutama soal cincin itu, adalah bagian dari kontrak."
"Lalu apa?" tanya Haein, menantangnya, suaranya menuntut kejelasan yang tidak bisa ia berikan pada dirinya sendiri. "Apa yang harus aku lakukan dengan kata-kata itu? Aku tidak tahu bagaimana meresponsnya."
