Finding Truth in Lies 4

331 67 8
                                        

Setelah malam yang penuh dengan rasa sakit dan kebingungan itu, Haein semakin menjauhi Hyunwoo. Ia tidak lagi berusaha untuk memahami atau bersabar. Yang ada hanyalah amarah dan rasa dikhianati yang semakin membara. Ia mulai mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menghantuinya. Kenapa Hyunwoo tidak bisa menyentuhnya? Kenapa ia selalu menghindar? Kenapa ia terlihat begitu tertekan setiap kali mereka berdua? Bahkan sampai muntah seperti saat terakhir?

Sore itu, saat Hyunwoo sedang mandi, telepon genggamnya yang tergeletak di meja nakas berdering. Haein yang sedang membereskan kamar tanpa sengaja melihat nama penelepon, Kim Yunho. Rasa penasaran yang selama ini ia tahan akhirnya mendorongnya untuk melihat lebih lanjut. Ia membuka riwayat panggilan Hyunwoo dan menemukan beberapa panggilan dan pesan dari nomor yang sama dalam beberapa hari terakhir. Namun tak ada panggilan maupun pesan yang Hyunwoo jawab.

Dengan jantung berdebar, Haein membuka salah satu pesan singkat dari Yunho yang belum terbaca, "Hyunwoo-ya, aku merindukanmu. Jangan terus menghindar. Kapan kita bisa bertemu?"

Haein terdiam, otaknya berusaha mencerna isi pesan itu. Merindukan? Bertemu? Ada hubungan apa antara Hyunwoo dan pria ini? Perasaan tidak enak mulai menjalar ke hatinya. Ia membuka pesan-pesan sebelumnya dan menemukan percakapan yang semakin membuatnya curiga. Ada emoji hati, ada ungkapan rindu, dan ada ajakan untuk bertemu secara diam-diam.

Tangan Haein mulai gemetar. Ia teringat akan sikap Hyunwoo selama ini, keengganannya untuk berhubungan intim, ketidaknyamanannya setiap kali mereka berdua terlalu dekat. Tiba-tiba, semuanya terasa masuk akal. Semua kepingan teka-teki yang selama ini berserakan mulai menyatu membentuk sebuah gambar yang mengerikan.

Air mata mulai mengalir di pipi Haein. Ia merasa seperti ditipu mentah-mentah. Jadi ini alasannya? Hyunwoo tidak tertarik pada wanita? Ia menyukai seorang pria? Lalu kenapa ia menikahinya? Kenapa ia membiarkannya hidup dalam kebohongan selama ini?

Pintu kamar mandi terbuka dan Hyunwoo keluar dengan handuk melilit pinggangnya. Ia terkejut melihat Haein memegang telepon genggamnya dengan air mata mengalir di pipinya.

"Haein? Ada apa?" tanya Hyunwoo dengan nada khawatir.

Haein tidak menjawab. Ia hanya menatap Hyunwoo dengan tatapan penuh amarah dan kekecewaan. Ia mengangkat telepon genggam Hyunwoo dan menunjukkan pesan dari Kim Yunho.

"Siapa dia, Hyunwoo?" tanya Haein dengan suara bergetar, berusaha menahan amarahnya.

Hyunwoo terdiam, wajahnya pucat pasi. Ia tahu semuanya telah terbongkar.

"Jawab aku, Hyunwoo!" bentak Haein, suaranya meninggi. "Siapa Kim Yunho? Kenapa dia bilang merindukanmu? Kenapa ada pesan-pesan seperti ini di teleponmu?"

Hyunwoo berusaha meraih telepon genggamnya, tetapi Haein menariknya menjauh.

"Jangan sentuh aku!" seru Haein dengan nada jijik. "Katakan yang sebenarnya, Hyunwoo! Apa yang sebenarnya terjadi di antara kamu dan pria ini?"

Hyunwoo menghela napas berat, menundukkan kepalanya. Ia tahu ia tidak bisa berbohong lagi.

"Dia.. dia teman lamaku," jawab Hyunwoo lirih.

"Teman lama?" Haein tertawa sinis. "Teman lama yang saling merindukan dan berkirim pesan mesra? Jangan membodohiku, Hyunwoo!"

"Haein, ini tidak seperti yang kamu pikirkan," elak Hyunwoo, berusaha mencari alasan.

"Tidak seperti yang aku pikirkan?" Haein mengulang kata-kata Hyunwoo dengan nada mengejek. "Lalu seperti apa, Hyunwoo? Jelaskan padaku! Jelaskan kenapa kamu tidak pernah menyentuhku! Jelaskan kenapa kamu selalu menghindariku!"

Air mata Haein semakin deras mengalir. Ia merasa hatinya hancur berkeping-keping. Ia merasa jijik dan marah pada Hyunwoo. Bagaimana bisa ia menikahi pria yang bahkan tidak tertarik padanya?

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang