Mobil mewah Kim Soohyun melaju mulus di jalanan kota Seoul. Kim Jiwon masih merasakan panas di pipinya akibat pertanyaan Soohyun di rumah sakit tadi. Ia menatap ke luar jendela, mencoba mengabaikan kehadiran pria di sampingnya. Namun, rasa penasaran mulai muncul ketika Soohyun tidak mengarahkan mobilnya ke kantor, melainkan ke arah distrik perumahan tempat apartemen Jiwon berada.
"Tuan Kim," Jiwon bertanya, tidak bisa menahan diri lagi. "Kenapa kita.. kenapa kita tidak kembali ke kantor?"
Soohyun meliriknya sekilas, senyum tipis terukir di bibirnya. "Lebih baik hari ini kau istirahat saja, Jiwon." Suaranya tenang, namun ada nada perintah yang tak terbantahkan. "Kau baru saja mendapat kabar mengejutkan, dan kau juga butuh istirahat setelah.. mual tadi."
Jiwon merasakan pipinya memanas lagi. Ia menghela napas. "Tapi.. saya harus bekerja, Tuan Kim. Banyak laporan yang harus saya selesaikan."
"Aku akan mengurusnya," Soohyun memotong. "Tugasmu hari ini adalah beristirahat. Aku akan mampir nanti sepulang kantor. Dan jika kau menginginkan sesuatu, apa pun itu, langsung hubungi saja aku." Nadanya penuh otoritas, tidak memberi ruang untuk penolakan. Ini bukan tawaran, melainkan sebuah instruksi.
Jiwon menatap Soohyun. Ini adalah Soohyun yang berbeda lagi. Posesif, dominan, tapi juga peduli dengan caranya sendiri yang membingungkan. Ia tidak bisa menolak. Ia tahu Soohyun tidak akan menerima penolakan.
Mereka tiba di gedung apartemen Jiwon. Soohyun memarkir mobilnya, lalu ikut turun dan mengantar Jiwon sampai ke pintu apartemennya.
"Istirahatlah," Soohyun mengulang, menatap Jiwon dengan tatapan intens. "Aku akan menghubungimu nanti."
Jiwon mengangguk pelan. "Terima kasih, Tuan Kim." Ia masuk ke apartemennya, menutup pintu, dan menyandarkan punggungnya di sana, membiarkan tubuhnya melorot perlahan hingga terduduk di lantai.
Udara di apartemennya terasa sesak. Kepergian Soohyun tidak membawa kelegaan yang ia harapkan, justru menyisakan beban yang lebih berat. Ia hamil. Anak Soohyun. Dan mereka akan menikah.
"Bagaimana ini.." Jiwon bergumam pada dirinya sendiri, suaranya nyaris tak terdengar. Ia menarik lututnya, memeluknya erat, menenggelamkan wajahnya di sana. Pikirannya kalut, berputar-putar tanpa henti.
Mengingat perkataan Soohyun di rumah sakit tadi, lalu tentang melamar langsung kepada orang tuanya. Ini adalah bagian yang paling ia takutkan. Orang tuanya, dengan segala pemikiran tradisional dan kolot mereka, tidak akan pernah bisa menerima kenyataan ini.
"Bagaimana baiknya aku mengabari mereka?" Jiwon bertanya pada dinding kosong di hadapannya. Haruskah ia bilang tentang kehamilannya? Pikirannya langsung menolak. Tidak, tentu saja hal itu tidak boleh. Itu akan menjadi bencana. Orang tuanya mungkin akan pingsan, atau lebih buruk lagi, mengusirnya. Mereka tidak akan pernah mengerti.
Ia harus mencari alasan lain, alasan yang bisa diterima, bahkan jika itu adalah kebohongan besar. Tapi kebohongan apa? Jiwon memejamkan mata, mencoba berpikir jernih. Mereka akan menikah. Pernikahan. Itulah poin utamanya.
"Aku harus bilang pada mereka jika.. jika aku menikah dengan Soohyun memang karena saling cinta," Jiwon berbisik, mencoba mengucapkan kata-kata itu, seolah melatih dirinya sendiri. Rasanya pahit di lidah. Mencintai Kim Soohyun? Entahlah. Ia tidak tahu perasaan apa ini. Ada ketertarikan, ada gairah, ada ketakutan, ada kebingungan. Tapi cinta? Itu adalah kata yang terlalu besar, terlalu sakral untuk situasi serumit ini.
Ia bangkit dari lantai, berjalan ke sofa, dan menjatuhkan diri di sana. Kepalanya terasa pusing. Ini semua terlalu cepat. Satu malam yang tak terkendali mengubah seluruh hidupnya.
Jiwon meraih ponselnya. Jemarinya ragu-ragu di atas kontak ibunya. Ini adalah percakapan yang paling sulit dalam hidupnya. Bagaimana ia akan menyampaikan kabar ini? "Ibu, Ayah, aku akan menikah. Dengan atasanku. Kim Soohyun. Dan kami.. kami sangat saling mencintai." Kebohongan itu terasa seperti tamparan di wajahnya sendiri.
