Backstreet

794 106 11
                                        

​Mentari pagi Seoul menyelinap masuk melalui celah tirai abu-abu di kamar apartemen Kim Jiwon. Sinar hangatnya jatuh tepat di wajah Jiwon yang masih terlelap. Ia menggeliat pelan, menarik selimut tebalnya hingga menutupi dagu, mencoba menahan diri dari panggilan pagi. Namun, bunyi notifikasi ponselnya yang diletakkan di nakas tak henti-hentinya memanggil.

​Dengan mata yang masih berat, Jiwon meraba-raba nakas, mencari ponselnya. Layar ponselnya menyala, memperlihatkan beberapa pesan dari Kim Soohyun. Jiwon tersenyum kecil, jantungnya berdebar, ia tahu pasti Soohyun yang pertama mengiriminya pesan pagi ini. Ia mengklik pesan tersebut, dan sebuah video pendek langsung terputar.

​Di dalam video itu, Soohyun mengenakan kaus putih polos dan duduk di sebuah sofa dengan latar belakang jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota Seoul. Di tangannya, secangkir kopi hitam mengepul. Ia menyesapnya perlahan, lalu menoleh ke arah kamera dengan senyum merekah, senyum yang selalu berhasil membuat Jiwon luluh.

​"Selamat pagi, Jiwon-ah. Semangat syuting hari ini! Jangan lupa sarapan, ya," ujar Soohyun dengan suara seraknya khas. Ia mengedipkan sebelah matanya sebelum video itu berakhir.

​Jiwon menekan tombol replay beberapa kali. Ia menyentuh layar ponselnya, seolah-olah bisa menyentuh wajah Soohyun. Hatinya menghangat, rasa rindu yang mengendap semalaman kini muncul kembali. Senyum tipisnya berubah menjadi senyum lebar yang tak bisa ia sembunyikan.

​Ia mengetik balasan singkat, "Pagi juga, oppa. Kopi buatanmu pasti enak." Ia menambahkan stiker hati besar di akhir pesan, lalu meletakkan ponselnya kembali. Jiwon bangkit dari tempat tidur, meregangkan tubuhnya. Ia berjalan ke arah jendela, membuka tirai lebih lebar, membiarkan cahaya matahari pagi memenuhi kamarnya.

​"Sudah bangun? Sepertinya aku tahu siapa yang membuatmu tersenyum pagi-pagi," suara seorang wanita mengagetkan Jiwon. Itu adalah managernya, yang sudah berada di dapur.

​Jiwon berbalik, wajahnya sedikit merona. "Eonni, sejak kapan kamu di sini?"

​"Sejak lima belas menit yang lalu. Aku membawakan sarapan, kebetulan aku mampir ke toko roti favoritmu," jawab managernya sambil menyajikan beberapa potong roti croissant di atas piring. "Sudah kirim pesan padanya?"

​"Tentu saja," jawab Jiwon sambil mengambil satu roti. "Dia yang mengirimiku pesan duluan."

​Managernya tersenyum, "Kalian ini.. seperti pasangan remaja yang baru jadian."

​Jiwon hanya tertawa, ia tahu betapa benarnya ucapan managernya. Hubungan mereka memang terasa begitu rahasia dan manis, seperti kencan pertama yang tak akan terlupakan. Setiap pesan, setiap panggilan, setiap pertemuan singkat, terasa sangat berharga.

​"Hari ini jadwalmu sangat padat," ucap sang manajer mengingatkan. "Setelah syuting adegan pagi, kamu akan langsung ke lokasi pemotretan majalah."

​"Aku tahu," balas Jiwon sambil mengunyah rotinya. "Aku sudah siap."

​"Soohyun juga sibuk, kan? Film terbarunya akan segera rilis," tanya managernya lagi.

​"Iya," jawab Jiwon. "Tapi dia bilang, dia akan mencoba datang ke lokasi syutingku jika ada waktu luang."

​"Hati-hati, jangan sampai ketahuan media," pesan managernya.

​"Tenang saja, kami punya seribu cara untuk menyembunyikan hubungan ini," kata Jiwon dengan nada bercanda.

​Setelah sarapan, Jiwon berjalan ke kamar mandi, bersiap untuk hari yang panjang. Di depan cermin, ia memandangi pantulan dirinya. Ada sedikit rasa lelah di matanya, tapi senyumnya tetap terpancar. Jiwon tahu, ia harus kuat. Ia harus bisa menjalani hubungan ini dengan baik. Karena ia yakin, di balik semua kerahasiaan dan kesulitan ini, ada Kim Soohyun yang selalu ada untuknya.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang