Taman bermain di sudut kompleks perumahan elite itu mulai temaram oleh cahaya matahari senja yang berwarna jingga pekat. Suasana yang seharusnya tenang mendadak pecah oleh suara isak tangis seorang anak perempuan kecil.
Minseo, yang saat itu baru berusia tujuh tahun, terduduk di atas pasir sambil memeluk lututnya yang lecet. Di hadapannya, tiga anak laki-laki yang lebih besar berdiri melingkar sambil tertawa mengejek.
"Lihat, dia menangis lagi! Dasar cengeng. Benar kata orang-orang, kamu itu cuma anak titipan di rumah keluarga Kim, kan?" ejek salah satu bocah bertubuh paling besar sambil menarik pita rambut Minseo sampai terlepas.
"Jangan bicara begitu! Kembalikan pitaku!" tangis Minseo semakin kencang.
Tepat saat bocah itu hendak mendorong bahu Minseo lagi, sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat. Itu Soohyun. Meski usianya baru sepuluh tahun, tatapannya sudah memiliki ketegasan yang melampaui umurnya. Ia berdiri kokoh di depan Minseo, menyembunyikan adiknya itu di balik punggungnya yang kecil.
"Lepaskan dia," ucap Soohyun rendah, suaranya dingin dan tidak bergetar sedikit pun.
"Oh, lihat, pangerannya datang! Soohyun, kenapa kamu repot-repot membela dia? Dia kan bukan adik kandungmu," tantang si bocah besar, mencoba melepaskan cengkeraman Soohyun.
Soohyun tidak melepaskannya. Ia justru mempererat genggamannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Dia adikku. Kalau kamu berani menyentuhnya lagi, kamu harus berurusan denganku."
"Halah! Jangan sok jagoan!"
Satu dorongan kasar mendarat di dada Soohyun, membuatnya terhuyung ke belakang dan jatuh menimpa Minseo. Para perundung itu tertawa terbahak-bahak, merasa menang.
Namun, di atas perosotan plastik yang letaknya tak jauh dari sana, seorang anak perempuan dengan rambut dikuncir kuda sedang duduk santai sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Namanya Jiwon. Di mulutnya, sebongkah permen karet dikunyah dengan ritme yang konstan. Plak! Ia meletuskan balon permen karetnya dengan suara nyaring tepat saat melihat Soohyun jatuh ke pasir.
Jiwon menyipitkan mata. Ia sudah memperhatikan Soohyun sejak mereka masih di taman kanak-kanak. Baginya, Soohyun adalah segalanya, dan melihat "pangerannya" dihinakan seperti itu membuat darahnya mendidih. Bukan karena ia peduli pada Minseo, tapi karena ia tidak suka melihat Soohyun kalah.
Jiwon melompat turun dari perosotan dengan gerakan lincah. Ia berjalan mendekat dengan santai, masih mengunyah permen karetnya, lalu berhenti tepat di samping gerombolan bocah itu.
"Hei," panggil Jiwon datar.
Ketiga bocah itu menoleh. "Apa kamu? Jangan ikut campur, Jiwon!"
Jiwon tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meludah pelan ke samping, membuang permen karetnya, lalu tanpa aba-aba, ia menerjang bocah yang tadi mendorong Soohyun. Dengan tenaga yang tidak terduga, Jiwon menjambak rambut bocah itu dan menendang tulang keringnya dengan keras.
"Aduh! Sakit! Lepaskan!" teriak bocah itu kesakitan.
"Berani sekali kamu menyentuh Soohyun-ku, hah?!" Jiwon berteriak sambil terus menyerang tanpa ampun. Dua bocah lainnya yang mencoba membantu justru terkena cakaran dan tendangan liar dari Jiwon yang mengamuk seperti kucing hutan. "Pergi! Atau aku akan bilang ke ayahku untuk menghukum kalian semua!"
Melihat kegilaan Jiwon, ketiga bocah itu lari kocar-kacir sambil menangis ketakutan.
Suasana mendadak hening. Jiwon terengah-engah, rambutnya sedikit berantakan. Ia segera berbalik, ekspresi sangarnya berubah drastis menjadi senyum lebar yang ceria saat menatap Soohyun. Ia mengulurkan tangannya yang kecil dan sedikit kotor ke arah Soohyun.
