Jilid 126

658 16 0
                                        

Wanita setengah baya itu melirik gusar kepada gadis tersebut, kemudian katanya: "Gadis tidak tahu malu! Pergi kau!"

Dibentak begitu, gadis tersebut tidak juga meninggalkan tempat itu, dia malah merangkapkan ke dua tangannya menjura dalam-dalam kepada si wanita setengah baya itu:

"Ampunilah dia....... janganlah dia dibinasakan jika memang engkau hendak membunuhnya juga, bunuhlah aku terlebih dulu!" Dan setelah berkata begitu dengan suara yang gemetar, tampak gadis itu menggigil diiringi tangisnya.

Giok Hoa jadi berkasihan melihat gadis itu yang tentu mencintai pemuda tersebut. Iapun jadi teringat akan hubungannya dengan Ko Tie yang juga disukai dan disenanginya. Diwaktu itu telah timbul niat di hati Giok Hoa, walaupun bagaimana dia akan membantu gadis itu menolongi si pemuda dari tangan si wanita setengah baya tersebut.

Sedangkan wanita setengah baya itu telah berkata dengan suara yang dingin:

"Hemmm..... engkau jadi menyediakan dirimu sebagai pengganti jiwa murid durhaka ini? Dia seorang pemuda yang paling buruk di dunia jika tokh memang menyatakan suka padamu dan mengambil engkau sebagai isterinya, engkau akan menderita! Sebagai murid pintu perguruan kami, orang luar tidak berhak mencampuri urusan di dalam pintu perguruan kami, terlebih lagi kau..... pergilah.....!"

Gadis itu menggeleng perlahan sambil menyusut air matanya.

"Tidak...... tidak..... apapun yang dikatakan locianpwe, akan tetap dengan keputusanku, bahwa aku memang harus dapat menolonginya..... aku rela jika sampai harus mengorbankan jiwa buat dia......!"

"Hemmmm, sedemikian cintakah engkau kepada manusia busuk ini?!" kata wanita setengah baya.

Bola matanya memain, setidaknya hatinya jadi mengiri juga melihat akan kebetulan cinta gadis itu kepada pemuda yang tidak berdaya di dalam tangannya dan akan dibinasakan itu.

"Apakah engkau telah memikirkannya masak-masak buat membela mati-matian manusia busuk ini?!"

Gadis itu mengangkat kepalanya memandang wanita setengah baya itu, air matanya tetap mengucur deras sekali, dia merangkapkan tangannya, dia bilang.

"Benar..... jika memang locianpwe masih menghadapi jiwanya, lebih dulu locianpwe bunuhlah aku! Aku tidak sanggup menyaksikan dia mati di tangan locianpwe."

Wanita setengah baya itu tertawa bergelak-gelak mendengar perkataan si gadis, yang seperti memelas meminta belas kasihan darinya.

Giok Hoa jadi terharu bukan main, dia melihat ketulusan hati akan cinta si gadis terhadap pemuda itu, yang rela mengorbankan jiwanya, asalkan pemuda yang dicintainya itu bisa diselamatkan jiwanya dari maut.

Dan Giok Hoa diam-diam semakin bertekad, walaupun bagaimana dia harus menolongi pemuda itu. Dia memang ingin membantu gadis itu menyelamatkan si pemuda.

Setelah puas ia tertawa bergelak-gelak seperti itu, tampak muka wanita setengah baya tersebut berobah menjadi keras dan bengis. Bola matanya memain tidak hentinya, memancarkan sinar yang tajam sekali, katanya:

"Hemm, jika tetap engkau ingin membela manusia busuk ini! Sayang sekali aku tidak bisa kesakitan kepada dirimu! Terserahlah kepada dirimu sendiri, engkau mau mampus atau tidak, tetapi yang pasti, orang busuk ini harus dihukum mati. Dia merupakan murid murtad dari pintu perguruannya......!"

Sambil berkata begitu, si wanita setengah baya tersebut mengangkat kakinya tinggi-tinggi. Dia menyedot hawa udara, karena dia mengerahkan sin-kangnya dan dia bermaksud akan menghantam batok kepala pemuda yang sudah tidak berdaya di dalam cengkeraman tangan kanannya.

"Jangan...... oooohhhh, ampunilah dia!" menjerit si gadis dengan suara memelas sekali, bahkan dia menubruk nekad hendak memeluk pemuda itu dan menghalangi maksud wanita setengah baya tersebut.

Anak RajawaliCerita yang buat anda obses. Terokai sekarang