Jilid 166

501 20 0
                                        

Tie-kwan di kota tersebut adalah Yang Uh Tai-jin, seorang Tie-kwan yang beradat keras dan juga kejam. Tidak jarang ia menjatuhkan hukuman yang sangat berat kepada tersangka.

Bahkan jika ada tersangka yang mohon kebijaksanaannya buat melihat kembali peristiwa yang terjadi, yang seharusnya tidak menerima tahanan sebegitu lama, maka Yang Uh Tie-kwan semakin menambahkan hukuman pada orang itu, yang dianggapnya menghina pangkatnya sebagai seorang hakim.

Karena berani banyak bertanya dan beranggapan hukuman yang dijatuhkan Tie-kwan tersebut salah dan tidak cocok serta tidak sesuai dengan kesalahan yang dilakukan orang tersebut.

Ko Tie ketika dibawa masuk ke dalam gedung Tie-kwan, segera juga disidang. Dan Yang Uh Tie-kwan keluar dari ruangan dalam, segera duduk di kursi kebesarannya. Palunya di ketuk keras.

"Inikah orangnya?!" tanya Tie-kwan dengan suara yang tawar dan sikap mengejek.

"Benar Tai-jin!" menyahuti salah seorang tentara kerajaan, yang memakili kawan-kawannya menceritakan bagaimana mereka menangkap Ko Tie.

Bukan main mendongkolnya mendengar cerita tentara kerajaan yang seorang itu, karena banyak yang berlebih-lebihan. Bahkan tidak tahu malu sekali tentara kerajaan tersebut menjelaskan bahwa ia seorang diri yang menangkap Ko Tie.

Dengan berdusta seperti itu, ia mengharap bisa cepat-cepat dinaikkan pangkatnya.

Tie-kwan itu mengawasi dan meneliti Ko Tie sampai akhirnya ia bilang: "Baiklah, sementara tahanlah dulu......!"

Semua tentara kerajaan itu mengiyakan dan menyeret Ko Tie, yang dijebloskan di dalam kamar tahanan.

Di dalam kamar tahanan itu telah ada seorang lelaki bertubuh tinggi besar tampaknya kuat sekali, dan seorang lelaki bertubuh kurus dan lemah. Namun, justeru lelaki bertubuh kurus itu yang menghampiri Ko Tie, katanya:

"Ini adalah salam perkenalan!" Sambil berkata begitu, dia menghantam dada Ko Tie.

Waktu itu Ko Tie telah berada dalam keadaan tidak separah sebelumnya, karena sebagian dari tenaganya mulai pulih. Dan cepat-cepat mengelak dari pukulan itu.

Sedangkan orang yang bertubuh tinggi besar dan berewokan mukanya, tertawa bergelak-gelak. Ko Tie menghindar dari pukulan itu, tangan kanannya menangkis.

Namun tangan Ko Tie terpental balik, hampir saja menghantam mukanya sendiri. Sedangkan si kurus kerempeng itu telah menghantam lagi dada Ko Tie.

"Dukkk," nyaring sekali terdengar dada Ko Tie terpukul oleh orang itu.

Kembali orang bertubuh tinggi besar itu tertawa bergelak-gelak.

"Bagus A Kian! Dengan demikian, engkau benar-benar cocok menjadi pembantuku!" kata orang bertubuh tinggi besar itu.

Sedangkan orang yang bertubuh kurus kerempeng itu, yang ternyata memiliki ilmu yang tinggi, sehingga setiap pukulannya sangat keras, berbeda sekali dengan keadaan tubuhnya yang tampaknya lemah.

A Kian tampaknya senang dipuji oleh orang bertubuh tinggi besar itu. Ia mengayunkan tangannya lagi, memukul dada Ko Tie.

"Bukkk!" tubuh Ko Tie terjengkang.

Ke dua orang itu tertawa bergelak.

Ko Tie marah sekali, jika memang ia bukannya sedang memikirkan kesehatan dirinya, tentu dia sudah akan balas menyerang.

Di waktu itu tampak A Kian telah memberi hormat kepada si orang bertubuh tinggi besar.

"Maafkan, Siauw-jin tidak bisa memuaskan hati Toako!" katanya menghormat sekali.

Anak RajawaliCerita yang buat anda obses. Terokai sekarang