Kepandaian Kang Wei memang telah mencapai tingkat yang tinggi. Dengan demikian dia dapat membuat cambuknya itu lemas, juga dengan mempergunakan sin-kangnya dapat menjadikan cambuk itu keras, tegak dan lurus yang bisa dipakai menotok. Karena dari itu, betapa berbahayanya senjata tesebut.
Jika di waktu lemas, dia bisa mempergunakannya buat membelit merampas senjata lawan atau juga melibat leher lawannya. Kalau sampai berhasil demikian, selain senjata lawan kemungkinan besar bisa dirampas, juga akan membuat leher lawan menjadi putus, kena tercekik oleh cambuknya yang luar biasa. Dan dikala diluruskan karena pengerahan tenaga lweekangnya, membuat cambuk itu sepertt pentungan yang dapat dipakai buat menotok jalan darah yang mematikan.
Di waktu itu Thio Kim Beng mengempos semangatnya. Dia telah mengadakan pembelaan diri yang rapat.
Di dalam hatinya si pengemis berpikir juga: "Hemm, ternyata tidak percuma nama besar mereka yang cukup menggetarkan rimba persilatan kepandaian mereka ternyata memang benar-benar tangguh..... aku harus menghadapi mereka lebih hati-hati!"
Thio Kim Beng berpikir seperti itu, karena dia telah merasakan, walaupun dia telah mempergunakan seluruh kepandaiannya tokh dia masih tidak bisa mendesak ke dua lawannya.
Malah sebaliknya, tampaknya dia yang terdesak. Karena dari itu, dia telah mengerahkan seluruh tenaga lweekangnya dan ilmu tongkatnya.
Sementara itu Thio Kim Beng telah membatasi diri buat tidak menyerang ke dua lawannya, dia hanya berkelit dan mengelak ke sana ke mari. Gerakannya begitu cepat dan ringan sekali, tenaga lweekang yang dipergunakannya juga sangat kuat luar biasa.
Begitulah, dalam waktu yang singkat, ke tiga orang itu telah bertempur ratusan jurus.
Sedangkan Thio Kim Beng suatu kali berseru nyaring, dia memutar tongkatnya itu dalam bentuk garis tengah yang cukup lebar, memaksa ke dua lawannya berhenti menyerangnya karena mereka harus melompat mundur menjauhi diri dari tongkat si pengemis yang lihay.
"Berhenti, ada yang ingin kukatakan!" teriak si pengemis dengan suara yang nyaring.
Cing Kiang Wie dan Kang Wei memang tidak menyerang lagi, mereka masing-masing menahan senjata mereka.
Cing Kiang Wie dengan suara menghina berkata mengejek. "Hemmmm, sekarang engkau baru mengetahui akan kelihayan kami, sehingga engkau ingin mengatakan memohon ampun dari kami agar membiarkan engkau pergi! Bukankah begitu!"
Diejek seperti itu, Thio Kim Beng tidak memperlihatkan sikap marah. Dia hanya mendengus memperdengarkan suara tertawa dingin. Lalu katanya dengan sikap yang sangat menghina:
"Sesungguhnya, jika memang aku jeri pada kalian, tentu aku tidak akan menghadang mencari urusan dengan kalian. Dan jika memang kalian berdua merasa kepandaian kalian telah tangguh, memiliki nama besar di dalam kalangan Kang-ouw, apakah dengan cara mengeroyok seperti ini tidak menurunkan pamor kalian?
"Hemmm, memang kalian bicara enak saja.......... Bagaimana jika kalian maju satu-satu, kita bertempur buat menentukan siapa di antara kita yang benar-benar memiliki kepandaian sejati?!"
Sambil berkata begitu, segera si pengemis mengibas-ngibas tongkat bambu hijaunya, seperti juga dia tengah menantang dengan sikap menghina.
Bukan kepalang gusarnya Cing Kiang Wie dan Kang Wei, karena mereka berdua dianggap sebagai manusia-manusia pengecut oleh pengemis tersebut. Maka Cing Kiang Wie telah membentak:
"Baik! Baik! Mari kita bertempur sampai ada penentuannya!"
Dan dia telah menjejakkan kakinya, tubuhnya mencelat dengan cepat sekali. Dia menghampiri si pengemis dan bersikap menyerang dengan pedangnya.
ANDA SEDANG MEMBACA
Anak Rajawali
PetualanganLanjutan "Beruang Salju". *note : Jilid kelipatan 5 di cinkeng ini cayhe private, hanya follower yg dpt membacanya. Kamsia
