Nyaring suara siulannya, dan kera itu seperti mengerti maksud siulan itu. Dengan segera kera itu berlari menghampiri kakek tua tersebut.
Oey Yok Su melihat kera itu menghampiri, segera menghantam dengan tangan kanannya
Kera itu berkelit.
Kakek tua tersebut juga menghantam lagi kepada Oey Yok Su, guna mencegah Oey Yok Su menyerang keranya itu.
Di waktu itu Kam Lian Cu telah mengejar semakin dekat. Pedangnya siap buat ditikamkan kepada kera itu.
Kera tersebut mengeluarkan suara yang aneh, kemudian berlari menjauhi lagi.
"Hentikan dulu! Hentikan dulu!" teriak si kakek baju kuning itu. "Aku ingin mengurus dulu urusanku!"
"Cisssss. tidak tahu aturan!" bentak Oey Yok Su mendongkol, "Kita bertempur sampai ada penentuan siapa di antara kita yang lebih tinggi kepandaiannya!"
"Aku menyerah!" teriak kakek tua itu tiba-tiba sekali, "Aku menyerah! Engkaulah yang memiliki kepandaian lebih tinggi dariku!"
Rupanya kakek tua itu menyerah, karena dia sangat menguatirkan sekali keranya, dan dia tidak mau kalau sampai keranya itu nanti mengalami sesuatu yang tidak diinginkan. Karena itu dia lebih rela untuk menyerah saja, Oey Yok Su tidak melibat terus padanya.
Puas Oey Yok Su mendengar pengakuan si kakek. Dia juga tidak mendesak lebih jauh.
"Jadi kau mengakui bahwa kepandaian kau berada di bawah kepandaianku?!" tanya Oey Yok Su dingin.
Kakek tua itu menghela napas dalam-dalam.
"Ya..... kau memang lebih lihay dariku!" kata si kakek tua tersebut. Dan dia sudah tidak memperdulikan Oey Yok Su lagi, dia melompat mengejar Kam Lian Cu.
Bukan kepalang kagetnya Kam Lian Cu melihat si kakek tua menyudahi pertempurannya dengan Oey Yok Su. Kalau sampai dia menyerang dirinya, tentu saja Kam Lian Cu tidak akan dapat menghadapinya.
Sedangkan kakek tua itu memang bergerak cepat sekali. Dia tahu-tahu telah berada di samping Kam Lian Cu. Belum lagi Kam Lian Cu sempat menyerangnya, kakek tua itu telah mengulurkan tangannya.
Sebat bukan main, dan Kam Lian Cu sendiri tidak mengetahui entah dengan cara apa, tahu-tahu pedangnya telah kena dirampas oleh kakek itu.
"Ohhh, mantuku, mengapa engkau hendak mencelakai Go-jie? Apakah dia kurang ajar?" tanya si kakek, seperti juga bertanya kepada seorang yang dikasihinya.
Kam Lian Cu kalap bercampur takut.
"Kembalikan pedangku!" katanya dengan nekad dan hendak menerjang kepada si kakek.
Tapi kakek tua tersebut telah melemparkan pedang itu, yang meluncur jauh sekali, menancap di sebatang pohon.
Dikala itu terlihat betapa Kam Lian Cu menjejakkan kakinya, tubuhnya segera juga melompat akan mengambil pedangnya.
Tapi kakek tua itu segera menghalanginya
"Jangan kau memaksa aku menotokmu sehingga engkau tidak bisa bergerak seperti tadi!" katanya.
Kam Lian Cu tertegun. Dia mengawasi kakek tersebut dengan sorot mata jeri.
Ancaman kakek tua itu memang benar, jika kakek tua itu menotoknya, tentunya Kam Lian Cu tidak mungkin bisa menghindarkan diri dan akan membuat dia rubuh kembali.
Karenanya, Kam Lian Cu akhirnya hanya berdiam diri saja, dia cuma mengawasi kakek tua itu.
Waktu itu si kakek tua tersebut telah berkata lagi: "Kau baik-baik harus mendengar kata-kataku!"
ANDA SEDANG MEMBACA
Anak Rajawali
AdventureLanjutan "Beruang Salju". *note : Jilid kelipatan 5 di cinkeng ini cayhe private, hanya follower yg dpt membacanya. Kamsia
