Octagon 2 - 24 : Sebuah Ketidakmungkinan

491 61 61
                                    

Masuk untuk tanggal 24 Januari.

Latihan membuat seluruhnya kelelahan, lagi. Dikarenakan mereka benar-benar menghabiskan 6 jam untuk berlatih, setelah kesibukan siang mereka untuk kuliah. Ya, kecuali untuk satu orang.

Hingga ketika pulang, tepatnya sampai sekitar jam 10 malam, Juyeon adalah satu-satunya yang tak mencapai tempat aslinya. Berbeda dari Younghoon yang langsung membawa diri ke arah apartemennya sendiri, Juyeon memilih untuk mampir ke rumah.

Memang Yunho, Mingi dan Hongjoong tahu, tetapi ketiganya juga tak ikut campur. Karena sesampainya mereka di rumah, dengan isi kepala yang penuh masing-masing, ketiganya langsung masuk ke dalam dan memutar lebih dahulu, tak ingin langsung ke kamar.

Juyeon membawa helmet miliknya masuk lalu mencari sosok yang menjadi alasannya untuk mampir ke sekeliling.

Salah satu tujuannya adalah dapur, dan disalanalah Juyeon menemukannya. Wooyoung, tengah sibuk dengan seseorang di ujung panggilan. Tertawa. Tampak bahagia.

Bahkan tak menyadari kedatangan Juyeon, yang kemudian sampai di hadapannya sembari menaruh helmet di kursi sampingnya.

Barulah Wooyoung mengangkat wajah, lalu membuatnya berbicara agak pelan pada panggilan tersebut, kemudian mengakhirinya.

Juyeon tak bergeming, saat Wooyoung menaruh ponselnya di atas meja dalam keadaan terbalik.

"Hei." Sapa Wooyoung, dengan nada yang dibuat santai. "Tumben ke sini. Gak langsung balik?"

"Kita belum ketemu sejak aku beres manggung."

Wooyoung meringis lalu mengangguk. "Ah, bener juga."

"Kamu baca pesanku?"

"Yang mana?" balas Wooyoung seperti tak acuh. Lalu kemudian dia tersadar, "ah, tentang Hongjoong? Gimana? Udah baikan sama dia?"

"Tinggal sama kamu."

Balasan dari Juyeon membuat Wooyoung agak tergelak. "Sama aku? Maksudnya?"

"Kita belum baikan." Jawab Juyeon kembali. "Aku butuh kita baikan."

"Asal kamu udah minta maaf sama Hongjoong." Wooyoung mengedikan bahunya. "Seenggaknya, jangan nambah suram rumah ini. Bikin mood jelek terus."

Juyeon mengangguk paham, agak menunduk dengan penyesalan. Sekaligus, perasaan sedih. "Sorry."

"Oke." Wooyoung berdiri, dan kemudian beranjak menuju lemari dingin.

Saat itu Juyeon mengangkat wajahnya lagi untuk memperhatikan. Tepat saat Wooyoung membuka lemari pendingin, suara dari kerasnya karet penahan pintu itu meredam suara satu notifikasi masuk ke dalam ponsel Wooyoung.

Juyeon melirik keduanya, pada ponsel dan Wooyoung, yang sibuk memindai isi lemari pendingin sampai membuka pintu samping, dari dua pintu tersebut.

"Besok ngampus, 'kan?" tanya Wooyoung lagi.

Juyeon terus melirik ke arah ponsel dan Wooyoung bergantian. Hanya memiliki waktu beberapa detik, jikalau dia mau melihat notifikasi yang masuk, untuk keadaan layar masih menyala.

Cahayanya masih tampak.

Ketika Wooyoung agak berjongkok, masih mencari sesuatu, Juyeon yang berpikir keras langsung meraih ponsel Wooyoung dengan cepat untuk melihat layarnya.

Benar.

Satu chat masuk.

Jelas dibacanya.

Junie /ᐠ - ˕ -マ

gue mandi dulu kalau gitu 😘

Juyeon kembali menatap Wooyoung, tepat waktu, telah meletakan kembali ponsel, saat lelaki itu meliriknya.

✔️ OCTAGON 2: SEX, PARTY AND ROCK 'N ROLL (ATEEZ BXB SMUT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang