Masih terlalu pagi untuk bangun, dari mereka yang salah lelah dan baru terlelap sekitar pukul tiga pagi. Bersama. Di lantai utama, dengan beberapa tidur di kasur angin, beberapa di karpet, dan San, diberikan sofa, sendirian.
Namun, satu orang tak tidur.
Sama sekali.
Hanya menunggu, sampai jam menunjukan pukul enam pagi lewat. Hanya untuk mendapati, pintu berusaha dibuka secara pelan.
Segera, Seonghwa, sosok tak tidur itu, melesat ke arah pintu dan membuka kuncinya. Secepat kilat, karena perasaannya tak nyaman, benar-benar dalam ketakutan.
Untuk Seonghwa, kemudian, menemukan Hongjoong di hadapannya, dalam keadaan mata dan wajah memerah. Mungkin sudah menangis sebelumnya? Entah. Tetapi Hongjoong tampak lebih hancur dari yang pernah Seonghwa tahu.
Bahkan nyaris sama seperti... ketika Seonghwa pertama kali memberitahu tentang kejadian yang menimpanya, saat SMA lalu.
Karena dari kehancuran itu, ada setitik kemarahan yang berusaha untuk diluapkan sekaligus ditahan.
Seonghwa tak mengatakan apapun, hanya segera, secepat kilat menarik tubuhnya ke dalam pelukan. Di mana dengan lemah, Hongjoong langsung menumpukan dahinya, pada bahu Seonghwa. Secara menyakitkan.
Di posisinya, Seonghwa membulatkan matanya. Tahu ada yang tidak beres; tahu ada yang terjadi dan sekiranya pasti sangat mengerikan, sampai Hongjoong seperti ini.
Cahaya yang masuk dari pintu terbuka itu, membangunkan semuanya satu per satu. Secara perlahan, untuk mereka menyadari bahwa Hongjoong telah pulang.
Jadi mereka bangun, untuk melihat dan menunggu, dari bagaimana Seonghwa dan Hongjoong bertahan cukup lama di posisi itu.
Mungkin, untuk sekitar lima sampai tujuh menit. Cukup lama untuk mereka diam, cukup lama sampai Hongjoong menarik diri dari pelukan Seonghwa.
Seonghwa tak berkutik saat Hongjoong memilih untuk melewatinya, untuk mendekat pada yang lainnya, dan berdiri menghadap mereka. Bahkan San, saat itu, berusaha tenaga untuk berjalan menyeret diri untuk mendekat—yang segera disadari Juyeon untuk membawakannya kursi roda. Namun San menepis, hanya ingin ikut berjalan mendekat pada yang lainnya, untuk menghadap.
Hongjoong berdiri, terpaut dua meter dari yang lain. Selagi Seonghwa mendekat, setelah menutup pintu, dan berhenti di jarak dua meter juga, di balik tubuh Hongjoong.
Sosok itu terluka.
Sosok itu terlihat sangat terluka.
Sampai Hongjoong, terlihat menelan ludahnya susah payah, sebelum hampir menjatuhkan dirinya. Ke bawah.
Seonghwa, juga yang lain, pernah melihatnya.
Karenanya, saat déjà vu itu menghampiri, baik Seonghwa maupun Jongho, bergerak mendekat untuk menahannya. Tetapi Hongjoong menepis, cukup keras, seperti tak memedulikan lebih dahulu bahwa yang melakukannya adalah dua orang yang ia sayang.
Hongjoong turun, sampai lututnya, menatap seluruhnya dengan mata sangat memerah, dengan seluruh urat di wajahnya menonjol, dengan tubuh yang gemetaran.
"Kalau dengan sujud ke kalian, bisa bikin kalian tetap sama gue... apapun yang terjadi... bakal gue lakuin..." Bibir itu gemetaran bukan main, suaranya menjadi serak. Sangat hancur terlihat. "Bahkan jika kalian ingin gue... cium kaki kalian satu per satu, bakal gue lakuin..."
"Hongjoong, tolong, jangan kayak gini..." Seonghwa, yang kini di sampingnya, berusaha untuk menariknya berdiri.
Mingi melihatnya, mengeraskan rahangnya kuat. "Hongjoong... lo cuma perlu bilang... dan lo gak perlu... lakuin... ini lagi..."

KAMU SEDANG MEMBACA
✔️ OCTAGON 2: SEX, PARTY AND ROCK 'N ROLL (ATEEZ BXB SMUT)
FanfictionOctagon dan The Overload menyelam pada dunia di dalam lingkaran dalam yang lebih luas. Semua berpusat pada sex, pesta dan rock n' roll. Walau sebenarnya, semua adalah tentang kekuasaan. Starts : January 18th, 2023