Haven

1K 103 31
                                        

​Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela besar di ruang makan kediaman keluarga Kim yang megah. Di atas meja marmer panjang, denting sendok perak yang beradu dengan porselen mahal menjadi satu-satunya suara yang terdengar. Atmosfer di ruangan itu terasa berat, kontras dengan harum kopi Arabika yang baru diseduh.

​Kim Soohyun duduk dengan tegak, mengenakan kemeja biru langit yang lengannya digulung sedikit ke atas. Di hadapannya, sang ayah, Kim Seokjin, meletakkan koran bisnisnya dengan bantingan halus yang disengaja.

​"Jadi, jadwal pelantikanmu sebagai Direktur Operasional sudah keluar minggu depan. Kau sudah menyiapkan pidatonya?" tanya Tuan Kim tanpa basa-basi.

​Soohyun meletakkan cangkir kopinya pelan, lalu menatap ayahnya dengan sorot mata yang lembut namun tidak goyah. "Ayah, maafkan aku. Aku tidak bisa datang ke pelantikan itu."

​Tangan Tuan Kim yang sedang memegang pisau roti berhenti seketika. "Apa maksudmu? Jangan bercanda di meja makan, Soohyun."

​"Aku sudah menerima tawaran dari Universitas Nasional," lanjut Soohyun tenang. "Aku akan mulai mengajar sebagai dosen ilmu bisnis kontrak penuh mulai semester ini. Aku sudah menyerahkan surat pengunduran diri dari posisi manajerial di kantor pusat kemarin."

​BRAK!

Tuan Kim menggebrak meja, membuat vas bunga di tengahnya bergetar. "Dosen?! Kau menghabiskan lima tahun di London, mendapatkan gelar MBA terbaik, hanya untuk menjadi seorang guru? Kau itu pewaris tunggal Grup Kim! Kau lahir untuk memimpin ribuan orang, bukan mengurusi bocah-bocah kuliahan yang belum tahu cara mengikat dasi!"

​"Bagi Ayah, bisnis adalah tentang menguasai pasar," potong Soohyun dengan suara yang tetap rendah dan sopan. "Tapi bagiku, bisnis adalah tentang berbagi ilmu. Aku ingin membangun mentalitas pengusaha muda dari akarnya. Itu jauh lebih memuaskan daripada sekadar melihat angka di laporan tahunan."

​"Kau benar-benar proyek gagal," desis Tuan Kim, wajahnya memerah karena amarah. "Semua investasi dan pendidikan yang kuberikan padamu.. sia-sia. Kau memilih menjadi pegawai rendahan di kampus daripada menjadi raja di perusahaanmu sendiri."

​Di tengah ketegangan itu, Nyonya Kim, yang sejak tadi diam, mengulurkan tangannya dan menggenggam jemari Soohyun di bawah meja. Ia memberikan senyum kecil yang penuh penguatan.

​"Sudahlah, Sayang," sela Nyonya Kim dengan suara tenang yang menyejukkan. "Soohyun sudah dewasa. Dia berhak memilih jalannya sendiri. Bukankah kita membesarkannya agar dia menjadi pria yang jujur pada dirinya sendiri? Lihatlah putra kita, dia terlihat sangat bersemangat. Ibu bangga padamu, Soohyun-ah."

​Soohyun membalas genggaman ibunya, merasa sedikit lega. "Terima kasih, Bu."

​"Jangan harap kau dapat fasilitas dari kantor kalau kau tetap keras kepala," ancam Tuan Kim sambil berdiri dan merapikan jasnya dengan kasar. "Pergilah ke kampusmu itu. Kita lihat berapa lama kau bisa bertahan dengan gaji dosen yang tidak seberapa."

Tuan Kim melangkah pergi dengan langkah berat yang bergema di koridor. Setelah suasana sunyi kembali, Soohyun menghela napas panjang, bahunya sedikit merosot.

​"Kau baik-baik saja?" tanya Nyinya Kim lembut.

​Soohyun tersenyum tipis, jenis senyum ramah yang selalu membuat wanita terpikat. "Aku baik-baik saja, Bu. Hanya sedikit gugup. Ini adalah hari pertamaku masuk kelas."

​"Dosen Kim Soohyun," goda ibunya sambil mengusap pipi putranya. "Kedengarannya sangat cocok untukmu. Jadilah guru yang baik, jangan terlalu galak pada mahasiswamu."

​Soohyun tertawa kecil, memperlihatkan sisi polosnya yang jarang muncul di depan ayahnya. "Aku tidak akan galak, Bu. Aku hanya ingin mereka mencintai bisnis sebanyak aku mencintai ilmu pengetahuan."

Oneshoot!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang