Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui jendela kaca besar Toko Roti "Kim’s Bakery". Butiran debu halus menari-nari di udara, berpendar keemasan terkena cahaya fajar. Jarum jam dinding kayu di atas meja kasir baru saja menunjukkan pukul lima pagi. Suasana di luar masih sangat sepi; hanya sesekali terdengar deru halus mesin kendaraan yang melintas di kejauhan. Namun, di dalam dapur toko roti yang bernuansa kayu hangat itu, kehidupan sudah dimulai sejak dua jam yang lalu.
Kim Soohyun berdiri tegak di balik meja besar yang menjadi area kerjanya. Pria itu mengenakan kaus oblong hitam polos yang pas di tubuh tegapnya, dilapisi celemek kain berwarna cokelat tua yang sudah agak pudar warnanya. Lengan bajunya digulung hingga ke siku, memamerkan otot-otot lengan yang kokoh dan urat-urat yang menonjol setiap kali ia bergerak.
Kedua tangannya yang besar dan memiliki beberapa bekas luka samar di bagian buku jari—yang selalu ia klaim sebagai akibat "kecelakaan kerja masa lalu saat bekerja di pabrik besi"—kini sedang bekerja dengan sangat telaten. Soohyun sedang menguleni adonan roti gandum hitam, salah satu menu paling laris di toko mereka.
Plak! Buk!
Suara adonan yang dibanting dengan ritme yang teratur menggema pelan di ruangan yang sunyi itu. Gerakan Soohyun sangat efisien dan bertenaga, namun sekaligus penuh perasaan. Ia menekan adonan dengan telapak tangannya, melipatnya, lalu memutarnya kembali. Gerakannya penuh ketelitian, seolah-olah ia sedang melakukan ritual yang sakral. Bagi siapa pun yang melihatnya, Soohyun hanyalah seorang tukang roti lokal yang sangat berdedikasi pada pekerjaannya. Tidak ada yang akan menyangka bahwa tangan yang sama, beberapa tahun lalu, adalah tangan yang paling ditakuti di dunia bawah tanah—tangan dingin yang bisa mencabut nyawa seseorang hanya dengan sebatang kawat tipis atau petikan jari.
Di area depan toko, dipisahkan oleh sebuah pintu kaca setengah terbuka, Kim Jiwon sedang sibuk dengan dunianya sendiri. Wanita itu mengenakan gaun kasual berwarna krem dengan celemek senada yang membingkai tubuh rampingnya dengan manis. Rambut panjangnya diikat asal ke belakang, menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai wajahnya yang cantik alami tanpa riasan tebal.
Jiwon baru saja mengeluarkan satu nampan besar roti manis yang baru matang dari oven besar di sudut ruangan. Aroma mentega yang gurih, susu, dan karamel langsung menguar memenuhi seluruh sudut toko, mengalahkan udara dingin pagi itu. Dengan menggunakan capitan kayu, Jiwon menata roti-roti berbentuk bulat sempurna itu ke dalam etalase kaca satu per satu. Setiap gerakan Jiwon terlihat anggun dan penuh kehati-hatian, seolah ia sedang menyusun permata berharga.
Sebuah senyuman hangat tidak pernah lepas dari bibirnya. Jiwon sesekali bersenandung kecil mengikuti melodi lagu pop klasik yang berputar pelan dari radio kecil di dekat kasir. Setiap kali ia melihat deretan roti yang tertata rapi, ada rasa puas dan bahagia yang membuncah di dadanya. Kehidupan ini—kehidupan yang sederhana, damai, dan jauh dari hiruk-pikuk—adalah semua hal yang selalu ia impikan.
Jiwon meletakkan nampan kosong di atas meja, lalu membalikkan badannya menghadap ke arah dapur. Dari posisinya, ia bisa melihat punggung lebar suaminya yang bergerak maju mundur seiring dengan aktivitas menguleni adonan. Senyum di wajah Jiwon semakin melebar. Ia melangkah pelan, sengaja menjinjitkan kakinya agar tidak menimbulkan suara di atas lantai kayu, berniat mengejutkan sang suami.
Namun, indra seorang mantan pembunuh bayaran legendaris tidak pernah benar-benar mati. Walau Soohyun sudah memejamkan mata dan memfokuskan diri pada adonan tepung, ia bisa merasakan perubahan tekanan udara di belakangnya. Ia mendengar gesekan halus kain gaun Jiwon dan ritme napas istrinya yang sangat iahafal. Alih-alih berbalik dan bersikap waspada seperti insting lamanya, otot-otot Soohyun yang tadinya tegang langsung rileks. Garis wajahnya yang tegas melunak seketika.
