Ruang operasi nomor empat di Rumah Sakit Universitas Myungse tidak pernah terasa sedingin ini. Suara detak monitor jantung yang ritmis menjadi satu-satunya melodi di ruangan yang tegang itu. Di tengah kepungan lampu operasi yang benderang, Kim Jiwon berdiri tegak. Masker bedah menutupi sebagian besar wajahnya, namun matanya yang tajam dan fokus menunjukkan otoritas yang mutlak.
"Arteri di sini sangat tipis. Kalau tangan kalian gemetar sedikit saja, pasien ini tidak akan bangun lagi," suara Jiwon terdengar tenang namun tegas, menginterupsi napas berat para asisten dokter di sekelilingnya.
Jiwon menggerakkan tangannya dengan presisi yang hampir mustahil. Ia adalah dokter bedah kardiotoraks terbaik di generasinya. Baginya, setiap detak jantung pasien adalah tanggung jawab yang tidak bisa ditawar.
"Pisau bedah nomor sepuluh," pintanya tanpa menoleh.
Setelah tiga jam yang melelahkan, suara bip yang stabil dari monitor menandakan kondisi pasien mulai menguat. Jiwon menghela napas panjang, bahunya yang tegang sedikit merelaks. Ia menjauh dari meja operasi, membiarkan tim asisten menutup jahitan terakhir.
Saat ia keluar ke koridor rumah sakit dan melepas maskernya, wajah lelah namun cantik itu terlihat jelas. Rambutnya yang sedikit berantakan karena tertutup topi bedah tidak mengurangi aura profesionalnya. Baru saja ia ingin duduk sejenak di bangku lorong, seorang perawat senior menghampirinya dengan tergesa-gesa.
"Dokter Kim! Pasien di kamar 502 mengalami sesak napas akut!"
Jiwon langsung berdiri tegak, rasa kantuknya hilang seketika. "Sudah dicek saturasi oksigennya?"
"Turun drastis di bawah 80 persen, Dokter."
"Siapkan intubasi sekarang. Saya ke sana."
Sepanjang jalan menuju kamar pasien, Jiwon hampir menabrak beberapa orang karena langkahnya yang cepat. Ia bahkan mengabaikan panggilan telepon dari ibunya yang sudah berdering sepuluh kali sejak pagi tadi. Hari ini adalah hari liburnya, namun bagi Kim Jiwon, kata 'libur' hanyalah konsep abstrak.
Di dalam lift, ia bertemu dengan sahabatnya, Dokter Kang.
"Jiwon, kau masih di sini? Bukannya shiftmu sudah selesai lima jam yang lalu?" tanya Kang dengan nada khawatir.
"Ada pasien kritis di 502. Aku tidak bisa pulang kalau belum yakin dia stabil," jawab Jiwon sambil terus menatap angka lift yang bergerak lambat.
"Kau itu manusia, bukan robot. Lihat matamu, sudah seperti panda. Kalau kau pingsan, siapa yang mau mengoperasi pasien-pasien itu?"
Jiwon hanya tersenyum tipis, sebuah senyum hangat yang biasanya ia berikan untuk menenangkan keluarga pasien. "Aku akan istirahat setelah ini. Janji."
"Kau bilang begitu kemarin, dan kemarin lusa juga," gerutu Kang saat pintu lift terbuka.
Jiwon tidak menjawab lagi. Ia berlari keluar lift, masuk ke kamar pasien, dan langsung mengambil alih keadaan. Dengan cekatan ia memberikan instruksi kepada para perawat. Di tengah kekacauan medis itu, ia tetap menyempatkan diri mengusap punggung tangan pasien yang ketakutan.
"Tenanglah, Pak. Tarik napas pelan-pelan. Saya di sini. Anda akan baik-baik saja," bisiknya lembut.
Dua jam kemudian, keadaan akhirnya terkendali. Jiwon terduduk di meja kerjanya yang penuh dengan tumpukan jurnal medis dan cangkir kopi instan yang sudah dingin. Ia melirik jam di dinding; sudah pukul sebelas malam. Ia membuka ponselnya, melihat pesan singkat dari kekasihnya yang bertanya apakah ia akan pulang untuk makan malam.
Jiwon mendesah, jarinya mengetik balasan pelan: 'Maaf, aku masih di rumah sakit. Jangan menungguku.'
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Untuk mengalihkan rasa lelah, ia membuka sebuah aplikasi novel di ponselnya. Judulnya The Frozen Crown. Ia butuh sesuatu yang tidak masuk akal untuk melarikan diri sejenak dari kenyataan yang melelahkan ini.
