Healed

843 96 22
                                        

Sinar matahari pagi menembus jendela dapur apartemen mewah mereka di Seoul, namun suasana di dalam tidak sehangat cahayanya. Jiwon bergerak dengan kecepatan tinggi, jemarinya lincah memotong sayuran organik menjadi potongan-potongan kecil.

​Di atas meja konter, berjejer tiga botol obat dengan label dosis yang sangat spesifik.

​"Sayang! Tolong cek suhu air di dispenser, pastikan tepat 40 derajat untuk melarutkan vitamin Daeyoon," seru Jiwon tanpa menoleh. Suaranya terdengar cemas meski ini adalah rutinitas harian.

​Soohyun, yang baru saja selesai memakai dasinya, menghampiri istrinya. Ia memegang bahu Jiwon pelan, mencoba menyalurkan ketenangan. "Sayang, napas dulu. Ini masih jam tujuh pagi. Daeyoon bahkan belum bangun."

​"Dia harus bangun tepat waktu, Soohyun. Kalau jadwal makannya geser sepuluh menit, jadwal obatnya berantakan," sahut Jiwon sambil menuangkan kaldu ayam ke dalam panci kecil. Matanya tak lepas dari timbangan digital.

​Sementara itu, di sudut meja makan yang luas, seorang anak laki-laki berusia 11 tahun duduk diam. Daehyun. Ia hanya mengenakan seragam sekolah yang rapi, sementara di depannya hanya ada semangkuk sereal yang sudah mulai lembek karena terendam susu terlalu lama.

​Daehyun memperhatikan ibunya yang sedang mengupas apel dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada kulit sedikit pun yang tersisa agar Daeyoon tidak tersedak.

​"Bu," panggil Daehyun pelan.

​Jiwon tidak menjawab. Ia sedang fokus menghitung tetesan suplemen ke dalam gelas kecil. "Satu.. dua.. tiga.. Tunggu, Soohyun, tadi aku sudah masukkan yang botol biru belum?"

​"Sudah, Sayang. Aku lihat sendiri," jawab Soohyun lembut. Ia melirik ke arah Daehyun yang tampak terasing di mejanya sendiri. Soohyun menghela napas, lalu berjalan menghampiri putra sulungnya itu.

​"Hyun, mau Ayah buatkan telur mata sapi? Sereal saja tidak cukup untuk energi latihan basket nanti sore," tawar Soohyun sambil mengacak rambut Daehyun.

​Daehyun menggeleng kecil, memberikan senyum tipis yang dipaksakan. "Tidak usah, Yah. Aku sudah kenyang kok."

​"Bu," panggil Daehyun lagi, sedikit lebih keras.

​Jiwon baru menoleh, tapi matanya langsung tertuju pada jam dinding. "Daehyun, kenapa belum habis serealnya? Ayo cepat, nanti kamu terlambat bus sekolah. Ayah tidak bisa mengantar karena harus membawa Daeyoon cek darah pagi ini."

​"Aku cuma mau tanya, Ibu lihat dasi cadanganku? Yang ini ada noda tintanya," kata Daehyun sambil menunjukkan ujung dasinya.

​Jiwon mengernyitkan dahi, tangannya masih sibuk mengaduk bubur khusus. "Cari di laci bawah, Sayang. Ibu sedang tanggung ini, kalau apinya mati sekarang, teksturnya tidak akan lembut. Daeyoon tidak suka kalau agak kasar."

​Daehyun terdiam sebentar. Ia melihat ibunya kembali membelakanginya, sepenuhnya tenggelam dalam dunia "kebutuhan Daeyoon".

​"Oh, oke. Aku cari sendiri saja," gumam Daehyun. Ia bangkit berdiri, membawa mangkuknya ke bak cuci piring.

​Soohyun menangkap gurat kekecewaan di wajah putranya. Ia segera menyusul Daehyun ke dapur. "Daehyun, tunggu sebentar. Ayah ambilkan dasi baru di kamar."

​Saat Soohyun melewati Jiwon, ia berbisik, "Sayang, lihat Daehyun sebentar saja. Dia juga butuh kamu pagi ini."

​Jiwon menghentikan gerakannya sejenak, wajahnya tampak lelah dan penuh beban. "Aku tahu, Soohyun. Aku tahu. Tapi Daehyun itu kuat, dia sehat. Daeyoon.. Daeyoon hanya punya aku untuk memastikan dia baik-baik saja hari ini. Kamu tidak mengerti rasanya ketakutan setiap kali dia batuk kecil saja."

Oneshoot!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang