Uap tipis membubung dari cangkir keramik abu-abu di atas meja kayu yang mulai mengelupas permukaannya. Di luar jendela kaca besar Reykjavik Roasters, gerimis tipis khas Islandia mulai turun, membasahi jalanan berbatu yang sepi dan memantulkan pendar lampu jalanan yang mulai menyala meski jarum jam baru menunjukkan pukul empat sore. Di sudut kafe yang hangat oleh aroma biji kopi Ethiopia yang baru dipanggang, Kim Jiwon duduk menyandarkan punggungnya pada bantalan kursi kulit.
Kedua tangannya melingkari cangkir latte yang mulai menghangat, menyerap sisa-sisa suhu panasnya ke dalam telapak tangannya yang kaku akibat embusan angin Arktik di luar sana. Di usianya yang baru menginjak 34 tahun dua bulan lalu, Jiwon merasa ia berada di puncak kehidupannya. Wajahnya yang tanpa riasan tebal—hanya pelembap dan sedikit lipbalm—tampak segar, kontras dengan mantel wol tebal berwarna khaki yang membungkus tubuh rampingnya.
Di hadapannya, sebuah laptop model terbaru menyala, menampilkan ratusan folder foto yang tersusun rapi berdasarkan nama negara dan tahun. Jari telunjuknya bergerak perlahan di atas trackpad, menggeser satu per satu potongan memorinya dalam tiga tahun terakhir.
Foto pertama: Dirinya yang berdiri berlatar belakang matahari terbit di balon udara Cappadocia, Turki, dengan rambut yang berantakan tertiup angin namun senyumnya terkembang lebar.
Foto kedua: Langkah kakinya yang tertutup debu tipis di gang-gang sempit Marrakesh, Maroko, mengagumi arsitektur kuno yang eksotis.
Dan yang terbaru, yang baru diambilnya kemarin pagi: Potret dirinya sendiri yang berdiri tegak di atas hamparan pasir hitam Pantai Reynisfjara, menatap hamparan Samudra Atlantik Utara yang ganas dengan latar belakang tebing-tebing basal yang megah.
Bagi Jiwon, setiap jepretan foto itu bukan sekadar pencapaian atau pameran visual di media sosial. Setiap foto adalah bukti konkret dari kemandiriannya. Sebuah proklamasi bahwa ia adalah pemilik sah atas hidupnya sendiri. Ia bekerja keras sebagai perancang narasi lepas untuk proyek-proyek internasional, mengumpulkan lembaran won dan dolar, hanya untuk satu tujuan: membeli kebebasannya. Kebebasan untuk tidak terikat pada ruang kubikal kantor, kebebasan untuk bangun di zona waktu yang berbeda setiap bulan, dan yang paling penting, kebebasan dari tuntutan sosial yang menurutnya kolot.
Bzzz.. Bzzz.. Bzzz..
Keheningan personal yang dibangun Jiwon tiba-tiba runtuh. Di atas meja, tepat di sebelah kanan cangkir kopinya, sebuah ponsel berspesifikasi tinggi bergetar hebat. Layarnya menyala terang, menampilkan sederet nama yang langsung membuat guratan halus di dahi Jiwon menegang.
Ibu..
Jiwon tidak bergerak. Ia hanya menatap layar itu dengan pandangan datar. Ia membiarkan getaran itu berdengung, beradu dengan suara petikan gitar akustik yang samar-samar mengalun dari pengeras suara kafe.
Satu kali panggilan mati. Dua detik kemudian, layar itu menyala lagi. Panggilan kedua. Lalu ketiga. Jiwon membalikkan ponselnya, membiarkan bagian punggung ponsel yang berwarna hitam menghadap ke atas, menyembunyikan nama ibunya dari pandangan. Namun, getaran itu tetap terasa, merambat melalui permukaan meja kayu dan mengetuk ujung-ujung jarinya seolah-olah sang ibu sedang berdiri di sana, mengetuk meja dengan tidak sabar.
Ini adalah panggilan ketigabelas sejak ia mendarat di Reykjavik tiga hari lalu. Jiwon tahu persis apa isi percakapan itu jika ia menggeser tombol hijau ke kanan. Ibunya tidak akan menanyakan bagaimana cuaca di Islandia, atau apakah Jiwon sudah makan dengan baik. Percakapan mereka selalu berputar pada poros yang sama dalam satu tahun terakhir: umur, pernikahan, dan tetangga desa.
Jiwon menghela napas panjang. Ia meraih ponselnya, berniat mengubah mode getar menjadi sepenuhnya senyap. Namun, sebelum jemarinya menyentuh layar, sebuah pesan teks masuk dengan kilatan lampu indikator.
