The Heartbeat Contract

690 91 31
                                        

​Lantai koridor Rumah Sakit Yayasan Sunjin yang dilapisi marmer putih mengilat itu selalu sibuk, tetapi langkah kaki Dokter Kim Jiwon memiliki ritme tersendiri. Cepat, tegas, namun nyaris tak terdengar. Jika ada yang jeli memperhatikan ke bawah, mereka akan menemukan alasan mengapa langkah sang dokter begitu senyap: sepasang sneakers putih yang sol karet bawahnya sudah menipis rata, dengan sedikit bagian kain di dekat ibu jari yang mulai terkikis hingga membentuk lubang kecil.

​Bagi seorang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah (kardiolog) di salah satu rumah sakit paling elite di Seoul, penampilan Jiwon jelas sebuah anomali. Rekan-rekan sejawatnya menenteng tas desainer dan mengenakan sepatu pantofel kulit Italia. Namun bagi Jiwon, selama sepatu olahraga itu masih bisa melindunginya saat harus berlari ke ruang gawat darurat, tidak ada alasan untuk membeli yang baru. Uang belasan ribu won untuk sepasang sepatu baru bisa dialihkan untuk membelikan beberapa kotak susu formula atau buku tulis bagi anak-anak di panti asuhan tempat ia tumbuh besar dulu.

​"Dokter Kim! Anda melewatkan jam makan siang lagi?" sapa Perawat Min yang berpapasan dengannya di depan ruang tunggu poli anak.

​Jiwon menghentikan langkahnya sejenak, memberikan senyum hangat yang langsung menghapus raut lelah di wajahnya. "Ah, tidak kok, Perawat Min. Aku membawa bekal hari ini. Lebih sehat dan.. tentu saja menghemat waktu," jawab Jiwon sambil menepuk tas kain kanvas sederhana yang menggantung di bahunya. Di dalam tas itu, terdapat sebuah kotak makan plastik berisi nasi ungu, tumis tauge, dan sedikit telur gulung yang ia masak sendiri.

​Bagi Jiwon, Rumah Sakit Sunjin bukan sekadar tempatnya mencari nafkah. Tempat ini adalah utang budinya. Jiwon adalah anak yatim piatu yang tumbuh tanpa tahu siapa orang tuanya. Masa depannya yang suram berubah total ketika perwakilan dari Yayasan Sunjin datang ke pantinya belasan tahun lalu. Melalui program beasiswa penuh untuk anak-anak berbakat dari latar belakang kurang mampu, Jiwon bisa menempuh pendidikan kedokteran yang luar biasa mahal, menyelesaikan spesialisasi jantungnya dengan nilai terbaik, hingga akhirnya mengabdi di rumah sakit milik yayasan yang sama. Jiwon mendedikasikan hidupnya untuk membayar kebaikan itu melalui setiap nyawa pasien yang ia selamatkan.

​"Dokter Jiwon!"

​Sebuah teriakan kecil memutus lamunan Jiwon. Seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun bernama Minwoo berlari ke arahnya sambil membawa sebuah gambar krayon. Minwoo adalah pasien gagal jantung kongenital yang sudah dirawat Jiwon selama tiga bulan terakhir.

​Jiwon langsung berjongkok, menyamakan tinggi badannya dengan anak itu tanpa memedulikan lutut celana kainnya yang bergesekan dengan lantai dingin. "Hei, jagoan. Kenapa berlari di koridor? Jantungmu bisa protes nanti," bisik Jiwon lembut sambil mengetuk pelan dada kiri Minwoo dengan jarinya.

​"Aku ingin memberikan ini sebelum aku pulang besok," kata Minwoo bangga, menyodorkan kertas bergambar seorang wanita berpakaian putih dengan stetoskop dan sayap malaikat di punggungnya. Di bawahnya tertulis tulisan cakar ayam: Dokter Jiwon Cantik.

​Jiwon merasakan kehangatan menjalar di dadanya. Rasa lelah akibat giliran jaga malam yang panjang menguap begitu saja. "Wah, ini bagus sekali! Terima kasih, ya. Dokter akan memajangnya di meja kerja. Janji dengan dokter, setelah pulang ke rumah, obatnya harus diminum tepat waktu, oke?" Jiwon menjulurkan jari kelingkingnya yang kecil, yang langsung disambut antusias oleh Minwoo.

​Namun, momen hangat itu hancur dalam hitungan detik.
​Tepat ketika Minwoo hendak berbalik menuju ibunya yang menunggu di ujung koridor, tubuh anak kecil itu tiba-tiba menegang. Matanya membelalak kaku, tangannya yang sebelumnya memegang kertas gambar mendadak terkulai, dan sedetik kemudian, Minwoo ambruk ke lantai dengan posisi tertelungkup.

​"Minwoo!" jerit ibunya dari kejauhan, berlari histeris.

​Insting medis Jiwon langsung mengambil alih dalam waktu kurang dari seperseratus detik. Sifat ramah dan lembutnya lenyap, digantikan oleh ketenangan dingin seorang kardiolog profesional yang terlatih menghadapi kematian.

Oneshoot!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang