Our Sweet Miracle

476 80 31
                                        

Suasana restoran keluarga berkonsep privat di kawasan Gangnam malam itu terasa begitu menekan bagi Jiwon. Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen terdengar selaras dengan dentak jarum jam dinding, tetapi tak satupun dari suara itu mampu menenangkan kekacauan di pikiran wanita berusia 35 tahun tersebut. Di hadapannya, kedua orang tuanya duduk dengan posisi tegak, menampilkan ekspresi wajah yang sudah sangat dihafal oleh Jiwon selama tiga tahun terakhir: campuran antara tuntutan, kecemasan, dan ketidaksabaran.

​"Jiwon-ah, sampai kapan kamu mau terus membuang waktu dengan alasan kesibukan di kampus?" Suara ibunya memecah keheningan. Nada bicaranya tenang, tetapi setiap kata yang terucap memiliki bobot yang cukup berat untuk menekan dada Jiwon.

​Jiwon menghentikan gerakan tangannya yang sedang memotong daging stik. Ia memotong pandangan, lalu meletakkan pisau dan garpunya dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara gaduh. Ia menarik napas panjang, mencoba menata emosi agar tetap menunjukkan sikap sopan sebagai seorang anak.

​"Ibu, jadwal mengajar saya semester ini sangat padat. Selain itu, saya baru saja ditunjuk sebagai ketua tim riset untuk proyek kebudayaan tingkat nasional. Saya benar-benar harus fokus," jawab Jiwon dengan suara yang ditata sehalus mungkin. Bahasa tubuhnya tetap tenang, tetapi jemarinya di bawah meja saling bertautan erat, menahan rasa frustrasi yang mulai membakar dadanya.

​Ayahnya, yang sejak tadi menyimak sambil menyeruput teh hangat, melipat kedua tangannya di atas meja. Tatapannya tegas, khas seorang pria yang terbiasa memberi perintah dan tidak suka dibantah.

​"Riset dan karier akademis itu penting, Jiwon. Kami bangga kamu bisa menjadi dosen di salah satu universitas terbaik di Seoul di usiamu saat ini. Tapi ingat, posisi akademis tidak akan menyambutmu di rumah saat kamu pulang malam. Jabatan itu tidak akan menemanimu di masa tua," potong ayahnya dengan suara berat dan berwibawa.

​"Ayah benar," timpal ibunya cepat, mengangguk setuju. "Usiamu sudah tiga puluh lima tahun, Jiwon. Teman-teman sebayamu atau bahkan sepupu-sepupumu yang lebih muda sudah mengantar anak-anak mereka ke sekolah dasar. Sedangkan kamu? Kamu masih sibuk berkutat dengan tumpukan jurnal dan ruang kuliah. Apa kamu tidak malu setiap kali ada acara keluarga besar dan orang-orang mulai menanyakan statusmu?"

​Jiwon memejamkan mata sejenak. Pertanyaan itu bukanlah hal baru. Kata-kata mengenai umur, standar sosial, dan rasa malu keluarga sudah menjadi makanan sehari-harinya setiap kali ia menginjakkan kaki di rumah orang tuanya.

​"Saya tidak pernah merasa malu dengan apa yang saya capai sekarang, Ibu," bisik Jiwon. Ada nada getar yang coba ia sembunyikan dalam suaranya. "Saya bekerja keras untuk posisi saya sekarang. Apakah menikah hanya karena dikejar umur adalah satu-satunya pengakuan yang berharga di mata Ibu dan Ayah?"

​Ibunya menghela napas panjang, menunjukkan rasa jengkel yang tidak disembunyikan lagi. "Ini bukan hanya tentang pengakuan orang lain, Jiwon! Ini tentang masa depanmu! Wanita memiliki batas waktu biologis yang tidak bisa ditawar. Makin tua kamu menikah, makin sulit nanti kamu memberikan cucu untuk kami. Jangan terlalu egois hanya memikirkan ambisimu sendiri."

​Mendengar kata "batas waktu biologis" dan "cucu", jantung Jiwon rasanya terhenti sejenak. Ada rasa nyeri yang sangat tajam menghantam dadanya—sebuah rahasia tersendiri yang ia simpan rapat-rapat di dalam hatinya, rahasia medis yang bahkan belum sanggup ia bagikan kepada kedua orang tuanya. Setiap kali topik tentang anak atau keturunan dibahas, luka tersembunyi itu seolah disiram cuka. Namun, Jiwon menahan diri. Ia tidak ingin membuka rahasia itu di tempat ini. Biarlah rasa sakit itu ia simpan sendiri untuk sementara waktu.

​"Ibu, pernikahan bukan perkara yang bisa diputuskan dalam semalam hanya karena desakan umur. Saya tidak ingin menikah hanya demi menggugurkan kewajiban sosial atau sekadar menyenangkan hati orang lain," ujar Jiwon berusaha memberikan argumentasi yang masuk akal.

Oneshoot!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang