Jarum jam dinding berdetak dengan ritme yang monoton, terasa begitu nyaring di dalam kamar tidur utama seluas seratus meter persegi itu. Ruangan yang didesain dengan interior modern minimalis bernuansa abu-abu dan putih tersebut seharusnya terasa mewah, namun atmosfer di dalamnya justru menyerupai lemari es raksasa. Dingin, kaku, dan membekukan siapa saja yang melangkah masuk. Di kamar ini, dua manusia bernapas di bawah satu atap yang sama, namun hidup dalam dua dunia yang terpisah jurang kelam.
Kim Soohyun berdiri tegak di depan cermin besar pembatas antara area walk-in closet dan tempat tidur. Ia baru saja selesai mengancingkan kemeja putihnya yang disetrika dengan sangat rapi tanpa cela. Jemarinya yang panjang dan kokoh bergerak dengan ketangkasan yang mekanis saat melilitkan dasi sutra berwarna biru tua di lehernya. Setiap gerakannya memancarkan aura disiplin yang ketat, cerminan dari didikan keras sang ayah yang membentuknya menjadi penerus tunggal sebuah imperium bisnis.
Namun, ekspresi wajah Soohyun sama sekali tidak menyiratkan ketenangan. Rahangnya yang tegas mengatup rapat, menciptakan garis keras yang menunjukkan ketegangan tersembunyi. Matanya yang tajam sesekali melirik pantulan sosok wanita yang berdiri beberapa langkah di sisi kanannya melalui cermin besar di hadapan mereka.
Wanita itu adalah Kim Jiwon, istrinya. Seorang wanita yang secara hukum telah berbagi marga dan ranjang dengannya selama dua tahun terakhir.
Jiwon sedang mematut diri, memastikan gaun malam berwarna hitam pekat yang melekat di tubuh rampingnya terpasang sempurna. Gaun itu elegan, mahal, dan memeluk lekuk tubuhnya dengan sangat pas—pilihan yang sengaja dibuat untuk menunjukkan citra menantu ideal dari keluarga konglomerat. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai dengan tatanan bergelombang yang anggun di ujungnya. Jemari Jiwon yang lentik sedang bergerak mengaplikasikan lipstik merah menyala di bibirnya.
Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibir mereka berdua. Sunyi di kamar itu begitu pekat hingga suara gesekan kain gaun Jiwon atau bunyi gesper sabuk Soohyun terdengar sangat jelas. Mereka sengaja memilih untuk membisu. Bagai dua orang asing yang dipaksa berbagi ruang sempit, berkomunikasi terasa seperti membuang energi secara sia-sia. Bagian terbaik dari pernikahan ini, menurut mereka berdua, adalah saat mereka bisa saling mengabaikan eksistensi masing-masing tanpa harus memicu pertengkaran verbal yang melelahkan.
Melalui pantulan cermin setinggi langit-langit tersebut, tatapan mereka tidak sengaja bertabrakan. Itu bukan tatapan sepasang suami istri yang penuh kasih, melainkan sebuah konfrontasi bisu yang sarat akan kebencian mendalam.
Dalam pantulan kaca itu, mata Soohyun menatap Jiwon dengan pandangan yang dingin dan menghakimi. Bagi Soohyun, Jiwon adalah perwujudan dari hilangnya kebebasan hidupnya. Dua tahun lalu, ia memiliki ambisi, rencana masa depan, dan pilihan hidupnya sendiri. Namun, semua itu dihancurkan dalam semalam ketika ayahnya mendiktekan sebuah nama: Kim Jiwon. Pernikahan bisnis ini hanyalah sebuah transaksi di atas kertas untuk menggabungkan dua korporasi raksasa, mengorbankan impian Soohyun dan menjadikannya budak korporat yang terkunci dalam komitmen seumur hidup yang tidak pernah ia inginkan. Setiap kali ia melihat Jiwon, yang ia lihat hanyalah rantai emas yang mengikat pergelangan kakinya.
Di sisi lain cermin, tatapan Jiwon yang membalas mata Soohyun tidak kalah tajam dan menusuk. Ada kilat kemarahan dan luka tersembunyi di balik matanya yang indah. Jiwon memandang Soohyun bukan sebagai seorang pelindung, melainkan sebagai sipir penjara yang arogan. Jiwon membenci fakta bahwa dirinya harus menyerahkan seluruh hidup, karier seni yang ia impikan, dan masa mudanya demi menjadi pemanis di samping pria berhati batu ini. Di mata Jiwon, Soohyun adalah pria egois yang selalu menganggap dirinya sendiri sebagai satu-satunya korban dalam perjodohan ini, tanpa pernah memedulikan bahwa Jiwon juga kehilangan seluruh dunianya. Kebencian Jiwon telah mengakar begitu dalam, membusuk bersama waktu yang mereka habiskan dalam kepura-puraan.
