​The Heartbeat Secret (Sequel The Heartbeat Contract)

881 98 19
                                        

​Roda koper berbahan kulit premium berderit halus saat bergesekan dengan lantai marmer penthouse yang mewah. Pintu ganda kayu ek berdesain modern itu tertutup dengan bunyi klik yang solid, seketika mengunci kebisingan kota Seoul di luar sana. Setelah menempuh penerbangan singkat dari Pulau Jeju dan perjalanan darat yang dikawal ketat oleh tim pengamanan Sunjin, Kim Soohyun dan Kim Jiwon akhirnya kembali menginjakkan kaki di rumah mereka.

​Suasana di dalam penthouse dua lantai itu terasa sangat berbeda dari sebelum mereka pergi. Sore ini, tempat itu terasa jauh lebih hangat. Cahaya matahari senja yang menembus jendela kaca besar setinggi langit-langit memantulkan pendar warna keemasan yang menenangkan.

​Soohyun melepaskan pegangannya dari gagang koper. Pria itu menarik napas dalam-dalam, membiarkan paru-parunya terisi penuh oleh udara rumah yang familier. Dinding dadanya naik turun dengan sangat teratur. Di balik kemeja kasual berwarna hitam yang ia kenakan, jantung barunya berdegup dengan ritme yang bertenaga.

​Dug-dug.. dug-dug.. dug-dug..

​Sebuah ketukan kehidupan yang dulu sangat ia impikan, kini menjadi bagian dari dirinya setiap detik.

​"Rumah kita tidak banyak berubah," ujar Soohyun sambil menoleh ke arah Jiwon. Senyuman tipis yang sangat tulus terukir di wajahnya yang kini tampak jauh lebih segar dan berisi.

​Jiwon meletakkan tas jinjingnya di atas meja konsol dekat pintu, lalu berjalan mendekati suaminya. Ia melepaskan mantel krem yang dipakainya, menyisakan gaun santai yang senada. Wajahnya memancarkan rona bahagia setelah menghabiskan berminggu-minggu masa pemulihan yang damai di Jeju.

​"Tentu saja tidak berubah, kita kan hanya pergi beberapa minggu, bukan beberapa tahun, Tuan Kim," sahut Jiwon dengan nada bergurau yang renyah. Ia melangkah mendekat, lalu dengan manja melingkarkan kedua lengannya di pinggang Soohyun, menyandarkan kepalanya di dada kiri pria itu. Ia memejamkan mata sejenak, mendengarkan melodi favorit barunya—detak jantung Soohyun yang sempurna.

​Soohyun menyambut pelukan itu dengan hangat. Lengan kokohnya melingkar pelan di punggung Jiwon, menenggelamkan istrinya dalam dekapan yang protektif. Ia mengecup puncak kepala Jiwon dengan lembut. "Tapi rasanya seperti aku sudah pergi sangat lama, Sayang. Berada di sini lagi, dengan kondisi yang benar-benar baru.. rasanya seperti memulai hidup dari awal."

​"Dan hidup yang baru ini harus dijaga dengan baik," Jiwon mendongak, menatap dagu tegas suaminya dengan pandangan memperingatkan namun penuh cinta. "Meskipun kau sudah merasa sangat sehat dan bertenaga, kau tetap tidak boleh kelelahan. Ingat, proses pemulihan internal pasca-transplantasi masih berjalan."

​"Iya, Dokter Kim. Aku selalu mengingat semua perintahmu," jawab Soohyun sambil terkekeh pelan. Ia menundukkan wajahnya sedikit, mengecup singkat bibir Jiwon sebelum melepaskan pelukan mereka dengan perlahan. "Ayo, kita bereskan barang-barang dulu."

​Namun, kedamaian dan suasana romantis itu tidak bertahan terlalu lama. Realitas kehidupan di Seoul sebagai petinggi salah satu konglomerat terbesar di Korea Selatan telah menanti mereka di balik pintu ruang kerja.

​Saat Jiwon berjalan menuju dapur bersih untuk membuat teh hangat, Soohyun melangkah menuju ruang kerja pribadinya yang terletak di lantai satu, tepat di sebelah ruang keluarga. Begitu ia mendorong pintu kaca buram tersebut, pemandangan di dalamnya langsung membuat Soohyun mengembuskan napas panjang.

​Di atas meja kerja berbahan kayu jati hitam yang luas, sudah berjejer rapi tiga tumpukan tebal map dokumen berwarna biru dan merah. Di samping tumpukan dokumen itu, terdapat sebuah tablet perusahaan yang layarnya terus berkedip, menampilkan ratusan notifikasi surat elektronik yang belum terbaca. Di atas semua itu, sebuah memo kecil berwarna kuning tertempel dengan tulisan tangan yang sangat rapi dan familier:

Oneshoot!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang