Rasa dingin dari lantai marmer vila memeluk tubuh Kim Jiwon yang gemetar. Tenggorokannya terasa seperti terbakar api, mencekik setiap helai udara yang berusaha ia hirup. Cairan pekat berwarna merah kehitaman menetes perlahan dari sudut bibirnya, mengotori gaun malam berwarna krem yang ia kenakan dengan penuh rasa bangga beberapa jam lalu.
Racun itu bekerja dengan sangat cepat dan menyiksa. Rasanya organ-organ di dalam tubuhnya sedang dicabik secara perlahan dari dalam. Namun, rasa sakit di dadanya jauh lebih menyiksa ketika ia menatap pria yang berdiri di hadapannya.
Kim Soohyun.
Suaminya. Pria yang selama tiga tahun ini ia kejar dengan cara yang sangat picik, pria yang ia paksa menikahinya menggunakan ancaman dan kekuasaan ayahnya. Pria yang menjadi pusat dari seluruh dunianya, kini menatapnya dengan tatapan kosong, dingin, dan penuh dendam.
"S-Soohyun.. tolong.." panggil Jiwon dengan suara parau yang hampir tidak terdengar. Tangannya yang gemetar berusaha menggapai ujung celana Soohyun, berharap ada sedikit saja rasa kemanusiaan yang tersisa di mata pria itu.
Namun, Soohyun justru melangkah mundur. Tatapannya sama sekali tidak memancarkan rasa kasihan. Wajah Soohyun terlihat pucat, matanya merah padam, dan napasnya memburu—ia tampak seperti seseorang yang telah kehilangan akal sehatnya.
"Kenapa, Jiwon?" suara Soohyun terdengar sangat datar, namun bergetar hebat karena amarah dan kekacauan mental yang sangat dalam. "Kenapa kamu harus merusak semuanya? Kenapa kamu nggak pernah biarkan aku dan Yoora bahagia?"
Jiwon menggelengkan kepalanya yang terasa sangat berat. Rasanya ia ingin berteriak dan memberitahu Soohyun bahwa semua bukti yang ada di tangan pria itu adalah bohong. Bahwa wanita bernama Han Yoora yang dipuja Soohyun bak malaikat tak berdosa itu sebenarnya adalah iblis bercelah yang menjebak mereka berdua. Tapi racun di dalam tubuhnya melumpuhkan pita suaranya.
"Yoora sedang berjuang hidup di rumah sakit sekarang gara-gara kamu," lanjut Soohyun. Suaranya mulai meninggi, penuh dengan keputusasaan. "Dia bilang kamu yang menyuruh orang untuk mencelakainya. Kamu yang menghancurkan hidupku sejak awal pernikahan ini!"
'Bukan aku.. Soohyun, demi Tuhan bukan aku..' bisik Jiwon di dalam hatinya. Pandangannya mulai mengabur oleh air mata dan darah.
Ia ingat betul bagaimana Yoora mendatangi rumah mereka sore tadi. Wanita berwajah lugu itu tersenyum manis sambil menyeduhkan teh herbal untuk Jiwon. "Minumlah, Jiwon. Kamu pasti lelah karena terus memaksakan diri dicintai oleh Soohyun," ucap Yoora waktu itu dengan nada lembut yang berpura-pura ramah. Jiwon yang saat itu begitu bodoh dan percaya pada Yoora menelan teh beracun itu tanpa curiga sedikit pun.
Lalu, tak lama setelah Yoora pergi, Soohyun pulang dalam keadaan mengamuk hebat karena Yoora meneleponnya sambil menangis dan mengaku telah diteror oleh Jiwon.
Soohyun tidak membiarkan Jiwon menjelaskan apa pun. Pria itu sudah benar-benar hilang akal. Manipulasi Yoora selama bertahun-tahun telah menanamkan doktrin di kepala Soohyun bahwa Kim Jiwon adalah monster dalam hidupnya, dan Han Yoora adalah satu-satunya korban.
Soohyun memegang bahu Jiwon yang sudah tak berdaya, lalu menariknya berdiri secara paksa. Kekuatan Soohyun yang tidak terkontrol menyeret Jiwon menuju pintu kaca yang terbuka lebar—pintu yang mengarah langsung ke balkon lantai tiga vila megah tersebut.
"Soohyun.. p-pikirkan lagi.." bisik Jiwon, berusaha sekuat tenaga menahan lengan Soohyun. "Yoora.. dia bohong.."
"Cukup, Jiwon!" bentak Soohyun. Matanya liar, menunjukkan bahwa logikanya telah sepenuhnya lumpuh akibat cuci otak dan manipulasi emosional dari Yoora. "Aku sudah muak dengan semua kebohonganmu! Aku nggak bisa hidup bersamamu lagi! Kamu menghancurkan aku, kamu menghancurkan Yoora!"
