When Tomorrow Comes 1/2

491 70 41
                                        

Suara gemericik air hujan yang mengetuk kaca jendela penthose mewah itu terdengar bagaikan melodi yang menenangkan. Di dalam kamar utama yang hangat, aroma harum lilin terapi beraroma vanilla dan sandalwood memenuhi udara. Kim Jiwon berdiri di depan cermin besar, menatap bayangannya sendiri dengan mata yang berbinar-binar. Tangannya yang sedikit gemetar menggenggam erat sebuah benda kecil berbentuk persegi panjang yang baru saja ia ambil dari atas wastafel kamar mandi.

​Dua garis merah yang tegas dan jelas tertera di sana.

​Positif.

​Jiwon menarik napas panjang, mencoba menahan air mata bahagia yang sudah menggenang di sudut matanya. Rasanya seperti mimpi. Selama beberapa bulan terakhir, ia dan Soohyun memang tidak secara khusus menunda momongan, tetapi mereka juga memilih untuk mengalir begitu saja mengingat kesibukan Soohyun yang luar biasa padat sebagai memimpin perusahaan. Dan sekarang, di hari yang sangat spesial ini, impian untuk menjadi seorang ibu akhirnya terwujud.

​Hari ini tepat satu tahun sejak mereka mengikat janji suci di altar pernikahan. Satu tahun yang bagi Jiwon terasa seperti dongeng indah yang menjadi kenyataan.

​Jiwon mengelus lembut perutnya yang masih terasa datar. Senyum manis tak berhenti terukir di bibirnya. Ada rasa hangat yang membuncah di dalam dadanya, sebuah kombinasi antara rasa syukur, cinta yang mendalam, dan ketidaksabaran untuk membagikan kabar bahagia ini kepada pria yang sangat ia cintai.

​Ia melangkah keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju meja rias. Di sana, sudah tersusun rapi sebuah kotak kado kecil berwarna biru muda yang diikat dengan pita sutra putih. Jiwon membuka kotak itu sebentar, memastikan isinya aman. Di dalamnya terdapat sepasang sepatu bayi rajut berwarna krem yang sangat mungil, lengkap dengan tes kehamilan yang tadi ia pegang. Jiwon tersenyum membayangkan bagaimana reaksi Soohyun nanti.

​Apakah pria yang biasanya tenang dan berwibawa itu akan melompat gembira? Apakah ia akan memeluk Jiwon sampai terangkat dari lantai? Atau mungkin Soohyun justru akan menangis haru, seperti saat pria itu mengucapkan janji pernikahan mereka setahun yang lalu?

​Jiwon sangat mengenal Soohyun—atau setidaknya, itulah yang selalu ia yakini selama ini. Pria itu adalah sosok suami yang sempurna. Soohyun selalu ingat hal-hal kecil tentang dirinya. Soohyun selalu memastikan Jiwon meminum vitamin tepat waktu, menyelimutinya saat ketiduran di sofa, dan selalu menyempatkan diri menyeduh teh hangat untuk Jiwon setiap kali wanita itu merasa lelah setelah seharian mengurus pekerjaannya. Perhatian-perhatian kecil itu yang membuat Jiwon merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.

​Ia melirik jam dinding berbingkai emas yang menggantung di sudut ruangan. Jarum jam menunjukkan pukul enam sore. Soohyun berjanji akan pulang lebih awal hari ini untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka. Jiwon sudah menyuruh pelayan rumah menyiapkan makan malam spesial dengan hidangan favorit Soohyun di meja makan utama. Meja sudah dihiasi dengan kelopak bunga mawar merah dan lilin-lilin kecil yang romantis.

​Suara langkah kaki yang mantap dan teratur terdengar dari arah lorong luar. Jiwon mengenali pola langkah itu. Itu adalah langkah kaki Soohyun.

​Jantung Jiwon berdetak lebih cepat karena gembira. Dengan sigap, ia mengambil kotak hadiah kecil itu dari meja rias, menyembunyikannya di balik punggung, lalu berjalan cepat menuju pintu kamar dengan langkah ringan.

​Ketika pintu kamar terbuka, Soohyun baru saja melangkah masuk. Pria itu terlihat sangat tampan meskipun wajahnya menyiratkan sedikit kelelahan setelah seharian bergelut dengan berkas-berkas kantor. Ia mengenakan setelan jas hitam yang terpotong rapi, jasnya sudah dilepas dan disampirkan di lengan kiri, sementara dasinya sedikit dilonggarkan di leher.

​Begitu matanya menangkap sosok Jiwon yang berdiri di depannya dengan gaun anggun berwarna putih gading, garis-garis kelelahan di wajah Soohyun seketika melunak. Pria itu mengukir senyuman yang sangat hangat—senyuman yang selalu berhasil membuat hati Jiwon meleleh.

Oneshoot!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang