Rumah megah bergaya modern di kawasan perumahan elit itu tampak berdiri kokoh, namun di dalamnya terasa begitu hampa. Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui dinding kaca setinggi langit-langit, memantulkan kilau bersih pada lantai marmer yang mengilap. Suasana ruangan itu sangat hening. Tidak ada alunan musik lembut, tidak ada canda tawa, dan tidak ada kehangatan yang seharusnya mengisi rumah tangga sebuah keluarga kecil.
Di atas meja makan berbahan batu alam yang panjang, berbagai hidangan sarapan telah tertata rapi. Ada sup daging hangat, nasi yang baru matang, beberapa lauk pendamping, serta jus jeruk segar. Semuanya disiapkan secara mandiri tanpa bantuan pelayan. Namun, kehangatan uap dari makanan itu sama sekali tak mampu mencairkan udara dingin yang membekukan atmosfer di ruangan tersebut.
Kim Jiwon duduk tegak di salah satu kursi kayu berukir halus. Gaun rumahan berwarna krem melilit tubuhnya yang ramping, namun matanya yang jernih tampak redup dan tajam secara bersamaan. Ia tidak menyentuh sendoknya sama sekali. Pandangan matanya hanya tertuju lurus pada satu objek di depannya: Kim Soohyun, pria yang menyandang status sebagai suaminya.
Jiwon menatap Soohyun dengan tatapan penuh jurang pemisah. Tatapan itu dingin, tajam, dan sarat akan kebencian yang samar-samar membakar dari dalam. Bagi Jiwon saat ini, pria di hadapannya bukanlah tempat bersandar atau pasangan hidup, melainkan sosok penjaranya. Sosok yang menurut sisa ingatannya telah merenggut seluruh kebebasan, cita-cita, dan masa depannya.
Sementara itu, Soohyun berdiri sedikit membungkuk di samping meja. Jemarinya yang jenjang dan rapi dengan telaten memindahkan sepotong lauk ke atas piring Jiwon. Pria itu mengenakan kemeja santai berwarna putih yang lengannya digulung hingga siku. Wajah Soohyun terlihat sangat lelah. Ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya, menandakan betapa sedikitnya waktu tidur yang ia dapatkan selama beberapa minggu terakhir.
Soohyun hanya diam dan selalu menundukkan pandangannya. Ia tahu persis bagaimana Jiwon menatapnya saat ini. Ia dapat merasakan tajamnya sorot mata itu menikam dadanya, namun Soohyun memilih untuk tidak melawan atau membalasnya dengan amarah. Pria itu dengan sabar meletakkan sendok dan sumpit di sebelah piring Jiwon dengan sangat perlahan, seolah takut suara dentingan kecil sekalipun akan memicu ledakan besar.
"Makanlah selagi hangat," ucap Soohyun pelan. Suaranya terdengar lembut namun parau, menyimpan rasa lelah yang sangat mendalam. "Kamu butuh tenaga untuk aktivitas hari ini."
Jiwon tidak menjawab. Ia bahkan tidak berkedip saat Soohyun meletakkan segelas air putih di dekat tangannya. Jiwon justru menarik napas panjang secara perlahan melalui hidungnya, lalu mendenguskan udara dingin itu dengan penuh celaan.
"Kamu pikir dengan berpura-pura menjadi suami yang perhatian seperti ini, aku bakal tersentuh?" kata Jiwon akhirnya. Suaranya datar, tenang, tetapi setiap kata yang keluar dari bibirnya bagaikan belati tajam yang sengaja ditusukkan. "Jangan bersikap seolah kamu peduli padaku, Soohyun."
Tangan Soohyun sempat terhenti sejenak di atas meja tatkala mendengarkan ucapan itu. Namun, ia dengan cepat mengendalikan diri. Pria itu menarik napas tipis, lalu menarik kursi di hadapan Jiwon dan duduk secara perlahan. Soohyun menatap piringnya sendiri yang masih kosong, tak berselera untuk mengisi perutnya sedikit pun.
"Aku cuma ingin kamu makan, Jiwon," balas Soohyun rendah, berusaha sebisa mungkin menjaga nada bicaranya agar tetap stabil dan tidak memancing pertengkaran. "Kamu belum makan apa-apa sejak semalam."
"Itu bukan urusanmu," potong Jiwon cepat. "Apapun yang terjadi padaku, sakit atau matinya aku, itu bukan hal yang perlu kamu pusingkan. Bukankah dari awal kamu menikahiku cuma untuk menguasai hidupku? Untuk merusak segalanya yang aku miliki?"
Soohyun mengangkat wajahnya perlahan. Matanya bertemu langsung dengan mata Jiwon. Di dalam mata pria itu, tidak ada amarah sedikit pun. Yang ada hanyalah rasa sakit yang sangat dalam, kepedihan yang ditahan dengan sekuat tenaga agar tidak tumpah menjadi tangisan. Soohyun tahu, Jiwon yang ada di depannya saat ini sedang terjebak dalam memori masa lalu—sebuah masa di mana Jiwon memang begitu membencinya akibat perjodohan paksa keluarga mereka. Jiwon yang penuh kasih sayang dan selalu menggenggam tangannya dengan hangat telah menghilang entah ke mana.
